Persipura

DENGAR BARENG (Debar) Sebuah istilah yang tidak seterkenal dan sepopuler saudaranya Nonton Bareng (nobar), namun ini adalah sebuah realita yang kami hadapi, jangankankan ketika tidak ada siaran langsung di televisi, ketika ada siaran langsung televisi pun, untuk daerah daerah tertentu yang jauh di pesisir terpencil dan pedalaman Papua yang jauh darisiaran televisi, ritual dengar bareng menjadi sesuatu yang mengasikkan dan cukup membuat berdebar debar. Ketika menjelang laga PERSIPURA di mandala, masyarakat sudah berkumpul di balai kampung, duduk dengan tertibnya bahkan menggunakan kaos Persipura. Tentu ini sebuah pemandangan yang sangat mengharukan bagi saya yang pernah mengalaminya di sebuah kampung terpencil di Papua. Ketiadaan akses televisi membuat ritual Dengar bareng menjadi penting dan juga menjadi ajang kami berkumpul. Bahkan adrenalin kamipun terpacu mengikuti setiap ulasan pandangan mata di radio, kami pun berteriak, sedih bahkan bersorak kegiarangan. Bahkan tidak lupa kami pun juga melakukan pawai kecil kecilan keliling kampung dengan berjalan kaki mengibarkan bendera Persipura, sambil bermain ukulele, sluing tambur dan tifa. Menarik sekali kala itu.Siapa yang tau kami, siapa yang melihat kami, namun kami bangga karna Persipura mewakili kami sampe ke penjuru negeri, ke pelosok buana. Ya dengar bareng menjadi sangat berharga ketika televisi televisi yang mengkalim dirinya televisi nasional (padahal sebenarnya lokal, cuma kebetulan pusatnya di jakarta) tdk mampu menjangkau kampung kampung kami. Sungguh indah kala itu (bahkan hingga kini masih ada daerah yang mengalaminya). Di situlah kehadiran radio sangat berjasa, dan RRI Nusantara V name up (nama naik). menjelang laga, lagu Persipura dari Black Brotehr berkumandang, ohhh bukan main membuncah rasa di dada, tong penggayu perahu cepat cepat sandar di pasir pasir. Setelah laga usai, ketika kemenangan diperoleh Persipura, tak lupa kami pawai sekali lagi keliling kampung (dengan berjalan kaki tentunya). ketika Persipura kalah kami tertunduk lesu, berkumpul kembali di pinggir pantai, bakar bakar ikan sambil mendiskusikannya seolah olah kami menyaksikan laga lewat layar kaca, padahal kami hanya mendengar. (agak lucu juga ee) Tapi itulah kenyataan hidup ini, dan terimakasih buat RRI Jayapura, ketika malam malam sunyi baru RRI tembak lagu lagu tu..tatusuk di dada sungguh Ya Dengar Bareng, adalah rutual kami sejak dulu dan masih berlangsung hingga sekarang. Sungguh beruntung kawan kawan yang bisa menonton televisi, atau setidaknya kini bisa online dan baca facebook, atau menonton live streaming, jangan bersungut sungut, ingatlah, masih banyak saudara saudara kita yang tidak sebruntung kita. Mengucap syukurlah dalam segala hal. ——– September 2017, di gerimis malam yang mengundang, Julio Sandia

PERSIPURA ARTI SEBUAH KEBANGGAAN

ARTI SEBUAH KEBANGGAAN
(Goresan keyboard pengantar tidur)

Tong pigi merantau jauh, skola mengejar ilmu, berangkat dalam berbagai latar belakang ekonomi, namun rata rata kitong adalah orang orang biasa, dari keluarga-keluarga biasa. Hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara, dalam kondisi pas-pasan, kadang di saat saat tertentu itu melemahkan.

Betapa tidak, jangankan untuk membiayai kegiatan-kegiatan tambahan, untuk bayar uang skola pun kitong sangat terbiasa bikin surat pernyataan, janji utk akan melunasi, jangankan itu, untuk makan sehari-hari saja tong utang di warung-warung makan di kiri kanan kost, Tong pu istilah itu “makan Catat”, makan lalu catat di buku yg disediakan pemilik warung, abis bulan atau kalo su ada kiriman, pemilik warung tinggal tagih.
Ke kampus pun pake baju seadanya yang mungkin juga tra sempat distrika karena strika pun tarada.
Semua itu kadang bikin minder, tapi tong tra mau meratapi kehidupan, tong terus berusaha mendapat nilai yang baik, tong berusaha cari uang dengan mengikuti berbagai lomba berhadiah, menjaga parkir, ngamen, dan ada juga yang memberi les les tambahan bagi anak anak tetangga.

Dalam kondisi yang apa adanya itu, ada secercah harapan, ketika tong jalan di mana saja, orang liat kitong dan dong bilang “PERSIPURA hebat ya”. “PERSIPURA keren mainnya”, “Gw salut ma PERSIPURA” dan macam macam kata kata lainnya. itu semua bikin tong rasa bagemana ehh, macam langsung tong angkat kepala, menengadah,, jalan tegap (macam langsung kaki lincah ringan skali), haha.

Tong jadi merasa sesuatu skali lalu berjuang membuktikan diri dan menunjukkan diri bahwa “bah..barang apa jadi,…tong juga bisa”. Tong tambah smangat kuliah dan menyelesaikan semua dgn baik dan kembali bangun Tanah Papua tercinta.
Trimakasih e PERSIPURA, Kebanggaan yang ko kase sangat membantu.

Tong lalu mempunyai sebuah kesimpulan :
Kebanggaan memberikan kepercayaan diri, dan kaum yang bangga dan percaya diri akan terpacu mengaktualisikan dirinya untuk tampil bersaing dalam berbagai bidang kehidupan menuju masa depan yang lebih baik dan penuh harapan.
—–
Medio September 2017, di persimpangan jalan kehidupan, Julio.

TUNGGU SA PULANG YAKOMINA

#CerpenPapua
Semoga berkenan

TUNGGU SA PULANG YAKOMINA
————-
Suatu siang yg cerah..matahari pica di atas kepala…namun angin yg bertiup dan suhu udara berkisar 10 derajat celcius.
Memasuki gerbang nan indah, hilir mudik manusia berbagai macam ras.
Bangga rasanya melihat keragaman ini, bangga rasanya ikut memberi warna dunia ini sebagai kulit hitam dan rambut keriting.
Berbaris dengan tertib menuju gate masing-masing, sambil menungu giliran, tatapanku berkelana menikmati aneka rupa keindahan mahluk ciptaan Tuhan, lalu terpaku pada seorang dara jelita berkacata mata hitam, seperti tra asing lagi. Ditengah aneka rupa, sang dara nampak memancarkan aura keanggunan yg khas, ya keanggunan yg su tra asing lagi, keanggunan wanita melanesia.
Sa pu tatapan mata penuh selidik, de siapa ee…. enggo ka, firum ka, insos ka…ataukah kembang dari baliem….

Ketika antrian semakin dekat ke gate yg bersebelahan sa su tra tahan lagi. Jjauh dari negeri penuh harapan, dahaga akan indahnya aroma cenderawasih begitu merasuki sukma.

Ade dari Papua ka ?
Dia menatap dgn penuh tanya
Ade dari papua ?
De balik jawab…sorry ?
Oh sa tersadar de tra mengerti sa pu bahasa
U came from west papua ?
Oh….no ujarnya sambil melemparkan senyum pu manis apa bilang…seperti suster yola yg di lagu lagu yospan sudah.
“Well..i’m Abner from Jayapura, West Papua” jawabku
“I’m laisa meo, u can call me laisa, i’m from wewak, png. Not so far from u, right ?”.

Oh……perem wewak PNG, sungguh..sa kira perem komin satu, gumamku dalam hati.
Mungkin karna kedekatan darah dan suku serta ras, tong dua langsung akrab.
Dia sempat melontarkan sebuah kalimat, sebelum masuk ke gate lain dan tong dua berpisah jalan….
Why must we have a different colour ? sambil menunjukkan pasportnya dgn senyum yg serius.
Itulah pertemuan pertama dan terakhir., hingga kini masih terkenang senyumannya yg tra asing lagi. Senyum khas wanita melanesia. Senyum yang teduh sampe di dalam kalbu, senyum yang kurasakan dari ibuku dan kekasih ku yakomina, wanita wanita Melanesa di Papua sana yang dalam kebersahajaannya telah menorehkan nilai serta sukses yang kuraih, yang beberapa hari lagi jumpa, dan kutumpahkan segala rasa yg begitu menggebu.
Masih terngiang de pu kalimat terakhir…kenapa tong dua pu pasport harus berbeda warna ?
——-
Brisbane, September 2013, di lorong kehidupan, Julio Sandia.
ini adalah cerita fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan peristiwa, mohon maaf. Gambar adalah ilustrasi.

Asal Mula Danau Sentani

Asal mula danau sentani
ASAL USUL DANAU SENTANI VERSI SENTANI TENGAH
ASAL USUL DANAU SENTANI
(By Pilipus Kopeuw)

Jogjakarta 24 Juli 2009
Senin malam 20 Juli 2009 kami sekeluarga meminta bapa-ade (pale: bapa cile) Uziel Pallo dan mama-ade (bule: ibu cile) datang kerumah untuk mendoakan kami, karena kami baru saja di tinggal pergi adik kami tercinta almarhum Theys Iwan Hagai Kopeuw pada tanggal 28 Juni 2009. kedatangan bapa-ade dan mama-ade juga sekaligus mendoakan keberangkatan saya esok harinya kembali ke jogjakarta untuk melanjutkan studi doktoral di universitas negeri yogyakarta.
Setelah berdoa dan melanjutkan makan malam, saya bertanya kepada Bapa-Ade : danau-danau lain di seluruh Indonesia punya cerita asal-usul terjadinya danau tersebut. Apakah danau sentani juga mempunyai cerita tentang asal-usul terjadinya danau sentani ? sebab sejak kecil hingga saya melanjutkan studi tingkat doktoral, Saya belum pernah mendengar ataupun membaca ceritera tentang asal-usul terjadinya danau sentani. Setelah selesai makan malam, kami duduk di depan rumah sambil minum teh, Bapa-Ade Uziel Pallo mulai cerita asal-usul terjadinya Danau Sentani.
Pada jaman dulu orang-orang mulai exodus dari kepulauan vanuatu dan Papua New Guinea menuju wilayah Jayapura, Sentani dan lainnya. Sebelum mereka exodus, mereka semua berkumpul di daerah perbatasan RI-PNG. Ada sebuah tempat antara kampung Wutung PNG dan perbatasan RI-PNG yang menjadi tempat tinggal sementara semua orang yang akan exodus ke arah barat yaitu masuk wilayah Jayapura, Sentani dan wilayah-wilayah lainnya. Konon cerita, waktu itu mereka sudah punya satu pemimpin kelompok yang di kenal dengan sebutan Ondoafi atau kepala adat yang membawahi seluruh masyarakat tersebut.
Sebuah tradisi yang dimiliki oleh kelompok masyarakat ini adalah biasanya menjelang bulan purnama, mereka mengadakan dansa adat dengan maksud mengadakan penyembahan kepada dewa yang mereka kenal. Pelaksanaan dansa adat ini dipersiapkan dengan baik dan akan dilaksanakan selama sebulan. Untuk itu, segala sesuatu disiapkan, seperti tempat, hewan seperti babi untuk korban penyembahan dan untuk bahan makan, juga ubi-ubian, pisang, sagu dan sebagainya.
Ketika saat bulan purnama tiba, Ondoafi memerintahkan semua orang wajib menggunakan burung cenderawasih di kepalanya masing-masing tanpa kecuali. Saat itu anak perempuan dari Ondoafi tersebut tidak memiliki burung cenderawasih tersebut. Di sekitar Wutung ada satu tempat keramat yang penuh dengan burung cenderawsih. Tidak sembarang orang dapat mengambil burung cenderawasih di situ. Siapa yang mengambil tanpa ijin akan kena kutuk. Jadi, harus ada ijin kepada tuan tanah atau penunggu tempat keramat tersebut baru bisa diambil burung cenderawasihnya. Ternyata anak perempuan Ondoafi ini menyuruh orang mengambil salah satu burung cenderawasih tanpa ijin.
Ketika acara dansa adat dilaksanakan, keluarlah seekor ular raksasa dan memalang tempat dimana acara dansa adat ini dilaksanakan. Melihat itu, Ondoafi mengumpulkan tua-tua adatnya untuk coba mengusir ular raksasa itu dengan segala macam cara. Hal itu sudah dilakukan, tetapi ular itu tidak bergerak sedikitpun meninggalkan tempat itu. Segala macam sajian sudah di sajikan kepada ular itu, tetapi ular raksasa itu tidak mempedulikan dengan semua yang sudah diperbuat baginya.
Melihat kondisi ini yang berlarut-larut sehingga mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengusir ular tersebut. Di dalam putus asa itu Ondoafi memanggil lagi para tua-tua adat dan memerintahkan mereka untuk mencari tahu apa sebabnya ular ini membatalkan pesta adat mereka dan tidak mau pergi dari tempat mereka tinggal. Setelah sekian lama diselidiki, mereka menemukan jawabannya. Mereka mengingat akan tempat keramat yang banyak burung cenderawasih. Akhirnya diadakan pemeriksaan terhadap semua orang tentang siapa yang memiliki burung cenderwasih untuk dansa tetapi masih dalam kondisi berdarah akibat dibunuh. Setelah diperiksa akhirnya di temukan bahwa anak perempuan Ondoafi yang memakai burung cenderawasih tersebut.
Ular raksasa ini adalah tuan tanah penunggu hutan tempat keramat yang banyak burung cenderawasihnya. Karena burung cenderawasih diambil tanpa ijin, makanya ular raksasa ini atau tuan tanah ini minta tumbal yaitu mau memakan orang yang sudah mengambil burung cenderawsih di hutan keramat itu tanpa ijin.
Setelah hasil pemeriksaan itu disampaikan kepada Ondoafi, maka Ondoafi dengan terpaksa memerintahkan supaya anak perempuannya di berikan kepada ular raksasa itu. Akhirnya anak perempuan Ondoafi diserahkan kepada ular raksasa itu. Setelah anak perempuan ini diserahkan kepada ular, ular itupun langsung bergerak menelan anak perempuan Ondoafi ini dan kemudian bergerak pergi meninggal mereka.
Ondoafi merasa sedih dan tidak tega melihat anaknya dimakan ular raksasa tersebut, akhirnya Ondoafi memerintahkan supaya masyarakatnya mengejar dan membunuh ular tersebut. Akhirnya semua masyarakat mengambil alat-alat tajam, kampak, tombak, panah lalu mengejar ular raksasa itu. Ketika ular raksasa itu dikejar ia lari kearah barat. Masyarakat terus mengejarnya hingga bertemu di ujung kampung Puay. Di sini mereka mencoba memanahnya dan menikamnya dengan tombak. Ular ini menggeliat kesakitan sehingga mengakibat seperti galian-galian atau kolam. Ular itu melarikan diri ke arah kampung Yoka. Ketika di Yoka, masyarakat kembali menghujaninya dengan panah dan tombak. Ular itu terus merontah-rontah membalik arah ke kampung Ayapo, Asei, Netar, Ifar, Besar, Ajau, Putali, Atamali, kemudian kearah Simporo, Babrongko dan terus ke barat, ketika ular ini mengarah ke daerah Doyo Lama, di sana masyarakat menemukannya dan bertubi-tubi memanah dan menombaknya ke kepalanya. Ular raksasa ini menarik kembali kepalanya dan menuju ke arah kampung Sosiri dan Yakonde akhirnya ular itu mati di sana.
Waktu ular raksasa ini menggeliat karena dipanah dan ditombak masyarakat, gerakan-gerakannya itu membuat jalur dimana dia bergerak-gerak merontak karena kesakitan, gerakan-gerakan merontaknya itu menyebabkan tempat yang menjadi pelariannya itu tergali dan menjadi dalam. Ini belum ada air. Pertanyaannya adalah kalau begitu dari mana ada sumber air yang menjadikan kelukan-kelukan itu menjadi danau Sentani sekarang ini.
Ada kisah lain yang dapat ditarik benang merahnya. Bisa dibaca dalam tulisan dalam Blog saya mengenai Kinggai di Siklop . Jaman dulu di gunung Siklop (Cycloop) ada tempat penampungan air yang disebut Kinggai. Kinggai ini tempat dimana air terjun jatuh di dalamnya dan kemudian percikannya itu menyirami daerah sentani. Konon cerita waktu itu Sentani sangat sejuk dan sangat terasa sekali butiran-butiran airnya hingga ke seluruh wilayah Sentani. Butiran air Cycloops yang memberi kesegaran dan kesejukkan kepada manusia dan alamnya Sentani.
Singkat cerita, wadah penampung air terjun ini patah dan mengalir menjadi beberapa sungai atau kali. Air tumpahan dari Kinggai d Siklop inilah yang kemudian turun ke daratan rendah dan memenuhi kelukan-kelukan jalur tempat ulat raksasa ini merontah-rontah kesakitan. Akhirnya kelukan itu terisi air penuh dan terjadilah danau. Danau tanpa nama. Setelah ada penghuni kemudian danau ini dinamakan Phuyakha atau danau yang sudah ada penghuninya. Phuyaka asal kata phu + yakha. (air + terang, Nampak, kelihatan). Nama Phuykha kemudian di sebut Sentani. Akhirnya karena danau ini di huni oleh orang-phuyakha, makanya di namakan DANAU SENTANI.
Asal usul kata sentani masih misteri. Saya belum mendapat keterangannya. Demikian kisah asal-usul danau sentani versi Sentani tengah.

Mama Rindu Robby

#CerpenPapua

  • MAMA RINDU ROBBY

    ——————————–

    Roby.. seorang pemuda yang hidup berkecukupan karena memang orang tuanya adalah orang kaya terpandang dan disegani di sebuah kota kecil. Menempuh kuliah jauh di tanah Jawa, bukanlah sesuatu yang berat bagi robi, setiap saat kalo ada libur, robi bisa pulang.walaupun hanya sehari. Dengan Materi yang cukup itu, tiket peswat pulang pergi Papua bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Hidup di tanah rantau, dengan fasilitas yang cukup, dikontrakkan rumah oleh orang tuanya, dibelikan sepeda motor keluaran terbaru. Tabungan yang cukup, kalau habis tinggal minta. Hidupnya enak dan dipenuhi oleh pesta pora anak muda.

Suatu ketika robi mendapat interlokal bahwa ibunya sakit keras dan ingin melihat anak semata wayangnya, robi yang begitu dikasihi yang dilahirkan dari rahimnya dengan peluh dan air mata, dengan perjuangan antara hidup dan mati. “bapa sa tra bisa pulang, tugas2 di kampus banyak skali”. itulah alasan yang berkali kali dilontarkan robi ketika ditelepon ayahnya “mama rindu skali, mama menangis trus ingin ketemu” “io ..tapi sa tra bisa tingalkan kuliah saat ini”, “mata kuliah padat skali” begitulah pembicaran antara bapak dan anak, pembicaraan yang berulang ulang. Robi tetap bersikukuh dgn alasan kuliah, walau sebenarnya robi bisa menuruti keinginan ayah ibunya. Bukan persoalan kuliah sebenarnya yang membuat dia menolak pulang, saat ini robi sedang bahagianya, mendekati dan menjalin hubungan dengan yunny teman kampusnya yang cantik, manja dan bersikap manis padanya. Begitu tergila gilanya Robby sampai segala keperluan dan keinginan yunny pasti dituruti mulai dari membelikan hp, baju baju bagus sampai membayar kuliah yunny. sebuah hubungan cinta yang sebenarnya masih harus dipertanyakan. “bang..aku pingin ganti hp “bosen ma hp yang ini” “ga ada fasilitas internetnya” “belikan ya bang..,” rengek Yunny dengan manja “ia sayang..nanti dibeliin” “sabar ya..duitnya belum ada”, jawab Robi “ga mauu…masa pelit sih bang “ga sayang lagi sama yuny ya”, balas Yunny sambil dengan gayanya yang manja menyandarkan kepalanya dengan rambut terurai di bahu Robby. Sikap yang selalu membuat Robby tak berdaya. “yunn..yuukk, mau ga..” “ih dasar nakal” “mumpung ga ada teman teman yang main ke sini yun” “ga mau” “ahhh..uhhh…mmmmhhh”

Siang itu, untuk yang kesekian kalinya, robby terjerat dalam suasana yang sepi yang hangat, dua insan yang sedang dibakar api asmara sampai sampai robi sama sekali tidak lagi memikirkan ibunya yang sedang sakit dan ingin bertemu putra yang dimatanya adalah belahan jiwa raganya “heelo yunn..gi ngapain?” “nanti malam ada kegiatan ga”? ucap Bambang di sebrang telepon “hello juga, ga ngapa ngapain, emangnya mau apa ?” tanya yunny “biasalah, kangen nih..” “dah seminggu ga ketemuan”, kata bambang “duhh..yang lagi kangen, ia yunny juga kangen “nanti malam yunny telpon deh”. janji yunny dengan manja dengan suara yang agak dipelankan, sementara di sampingnya, Robby sudah tertidur pulas, tenaganya terkuras habis di siang yang sepi itu. Jalinan cinta yang tak disadari robby sama sekali bahwa selama ini yunny menjalin kisah lain dengan Bambang, teman kampusnya.

 

Hari terus berlalu, robby begitu menikmati hidupnya dan hubungan cinta sepihak yang dilakoninya. beberapa kali interlokal dari rumahnya, dari ayah tercintanya, tidak digubris. Kalaupun menerima, pastilah jawabannya akan sama, bahwa perkuliahan sedang padat padatnya. Sekian lama menanti dalam kerinduan akan buah hatinya, akhirnya penyakit yang lama diderita ditambah dengan rasa kecewanya tak dapat melihat anak yang sangat dikasihinya semua itu makin membuat kondisi fisik ibunda robby makin menurun dan….. Pada suatu sore yang indah, dalam pelukan suami tercintanya, ibunda roby menghembuskan nafas terakhirnya dengan air mata masih membasahi pipinya “mama..bapa tau mama menderita”, “bapa minta maaf, bapa su berusaha panggil robby datang”, “bapa su kirim uang tiket pulang pergi” “tapi anak dia blum bisa datang”, “dong pu kuliah masih padat dan blum ada libur” itulah bisikan ayah robi di telinga isterinya, seorang laki laki gagah dan tampan yang sangat tegar walau dia sangat kecewa dengan sikap robby, namun dengan sikap arif dan bijaksana, dia masih mencoba memberi jawaban jawaban yang datar dan bijak, sampai pada sore itu, dikala isterinya harus berpulang ke Rumah Bapa yang Tenang “Robby..bapa mau bicara” terdengar nada ayah roby yang berat namun datar dan penuh wibawa di seberang telepon “ada apakah?” robby menjawab tanpa ekspresi apapun karena saat ini dia dan yunny akan pergi menonton sebuah konser musik dari artis yang sangat digandrungi yunny “robb..Tuhan itu punya kuasa” “dia pasti selalu mencintai kita dan tra akan meninggalkan kita” ayah robby mencoba membuka pembicaraan dengan anaknya, kalimat kalimat yang penuh ketenangan dan kehati-hatian ” io bapa..sa tau” “kenapa jadi..” jawab roby dengan agak tidak sabar, karena yunny sudah melirik gelisah ingin segera berangkat ke tempat konser. ” robby..bapa harap robby tetap kuat dan tabah”, “mama sudah dipanggil Tuhan”, ” ini tanta dan bapade dong ada kase mandi mama” “apa??” “bapa pu maksud mama meninggal??” tanya robby dengan nada meninggi. ” io anak..tetap tenang dan konsentrasi” “kalau ada waktu pulang ka, ikut liat mama dikuburkan”. “bapa su suruh bapade yonas transfer uang lagi”, “barangkali ko perlu di jalan” “io sudah…nanti sa cek pesawat sudah” “ok bapa..nanti sa telpon lagi sudah” “io anak..bapa harap ko jangan sedih”, “kendalikan diri” “tetap berdoa, mohon pimpinan Tuhan”. Ayah Robby mencoba memberi penguatan. “io bapa nanti sa telpon balik”, robby menutup telepon ketika kata kata ayahnya belum selesai, rupanya yunny sudah mulai kesal dan memaksa mereka segera ke tempat pertunjukan karena mereka hampir terlambat

 

“telpon dari siapa sih bang…cepat dikit napa..telat nih, yunny menujukkan kekesalannya. “ia..dari babe gw..biasalah..ortu”.. “slalu saja mengecek anaknya” Jawab robi dengan berbohong, karena dia tidak ingin susana hangat malam ini bersama yunny terganggu. Robby sudah membayangkan kemesraan yang bakal dialami malam ini, sehabis nonton tentunya mereka akan mampir ke sebuah supermarket yang buka 24 jam, membeli camilan dan makanan kecil, lalu kembali ke kontrakakan Robby dan mengakhiri malam dalam gairah membara. Berita tentang kematian ibunya sama sekali tidak mengusik rencananya bersama yunny “kaka ..robby belum kase kabar ka?” “kk perempuan pu badan su mulai rusak”, “tong harus segera makamkan kk perempuan” ujar Lince, adik kandung ayah robi,

 

mamade dari robby yang selalu setia menjaga kk iparnya semenjak sakit sampai akhirnya meninggal. dimata Lince, kk iparnya adalah wanita yang sangat dikaguminya, penampilannya yang bersahaja, cantik, cerdas, dan pandai mengurusi rumah tangga, dan yang sangat dikagumi lagi dari kk iparnya ini adalah kabaikan hatinya yang tanpa mengeluh sedikitpun, selalu menolong keluarga suaminya dengan sukacita dan penuh kesabaran. Tipikal seorang wanita papua yang begitu tulus dalam sebuah pernikahan, menganggap keluarga suaminya adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya. sungguh mulia “io lin..mungkin anak dia masih ada halangan jadi belum kase kabar” ujar sang kakak dengan nada penuh wibawa dan penuh pembelaan pada putranya, walau sesungguhnya dalam hatinya dia menangis dan kecewa, kenapa Putranya begitu tega dan berubah seperti ini. Disaat saat penting dimana dia membutuhkan kehadiran Putranya untuk ikut menguatkan dirinya, namun hal itu tak tercapai. dengan keputusan dan kesepakatan pihak keluarga maka pemakamaman akhirnya dilakukan tanpa kehadiran robby, putra terbaik di mata almarhumah.

 

Sementara itu kisah cinta sepihak penuh gairah antara robby dan yunny yang terjalin sekian lama akhirnya berakhir, yunny memutuskan hubungan mereka secara sepihak karena dia akan pindah ke kota lain, dengan alasan keluarga, padahal hanya akal akalan yunny untuk mengikuti Bambang, kekasih hatinya selama ini, yang pindah ke kota lain. Robby begitu putus asa, semua cinta dan apa yang dimilikinya telah diberikan, untuk menuruti kemauan yunny sang gadis idolanya dalam keputusasaan dan kekecewaan robby memutuskan untuk pulang ke Papua sekedar mencari ketenangan jiwa. kuliahnya pun ditinggalkan karena patah hati ditinggal gadis idolanya, yunny yang begitu mempesona dimatanya.

 

Ayah Robby yang mulai frustasi dan dilanda kesepian mendalam, sudah sakit sakitan, hanya bisa duduk di atas kursi roda karena terserang stroke yang hebat, Hanya bisa menggerakkan kepalanya menyambut kedatangan putra terkasihnya. dengan bantuan mamade lince dan bapade yonas, ayah robby memberikan sepucuk surat yang pernah dituliskan ibunya, sebuah surat yang belum selesai karena ditulis dalam keadaan sakit. Anakku obi..yang sangat mama sayangi, mama sangat rindu obi, mama su lama tahan mama pu sakit hanya karna tunggu obi. Hanya obi yang bikin mama kuat. Mama ingin membelai obi, memelu obi seperti dulu obi masih kecil. Obi harus tetap rajin kuliah. mama ingin liat obi Mama……

 

kalimat selanjutnya hanyalah coretan-coteran yang tidak terbaca mungkin karena kondisi fisik yang sangat menurun kala menulis surat itu. Senja ini , dalam keheningan sore yang indah, robby tertunduk lesu disamping makam ibunya, dengan air mata terurai, dia memeluk Tanda Salib diatas kuburan bertuliskan: Yohanna Martafina Julliana S. Lahir: 09-02-1960, Wafat:22-06-2007.

 

Robby tersadar.. dia telah mengabaikan ibunya, wanita yang begitu mengasihinya, hanya karena larut dalam hubungan cinta dengan yunny, larut dalam segala kenikmatan duniawi yang ditawarkan yunny, yang kini telah pergi dan hidup berbahagia dengan Bambang, kekasih pujaannya. Nilai nilai Logika, Etika dan Pola berpikir Bijak yang didapatkan selama ini, tentang arti penting seorang ibu, tentang derita dan perjuangan seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan, dalam kesabaran dan kasih tanpa pamrih seorang mama, semakin menikam jantungya .

 

Sayup sayup terdengar alunan lagu Doa Ibu yang dibawakan oleh penyanyi Nikita yang diputar oleh beberapa orang di sebrang sana, yang sedang membersihkan kuburan keluarga. Air mata semakin deras membanjiri bajunya, tanpa sanggup lagi berkata, roby tersandar lesu di samping makam ibunya, menangis dan menangis sampai kering air matanya. Dalam hatinya Robby ingin sekali sang waktu bergerak mundur, agar dia punya kesempatan untuk mencium kaki ibunya, sebuah keinginan yang tak bertepi. Kesempatan tidak datang dua kali robbb… —————— Oktober 2017, Di tepian Teluk Youtefa, Julio Sandia. Ini adalah certita rekaan semata, jika ada kesamaan nama dan tempat, penulis mohon maaf sebesar besarnya. Foto pada gambar adalah ilustrasi.

Lanjutkan membaca “Mama Rindu Robby”

Pelabuhan Hollandia

Pelabuhan Hollandia

Sumber Foto : historia.id

Oleh, Topilus B. Tebai

AMSTERDAM, 14 Juni 1941. Pelabuhan milik kota kecil di atas pasir pantai yang dalam sekejab menjadi seperti kota terbesar di Nederland dan seperti pusat dunia karena rempah-rempah Hindia Timur (Indonesia) ini. Sangat ramai. Beberapa kapal telah menurunkan layar. Beberapa kapal sedang bersiap berlayar. Bangsa Nederland Belanda berlahan bangkit, bagai benalu nan subur menghisap nadi sang pohon, begitu ia maju karena rempah Nusantara.

Kapal putih itu kelihatan gagah dari yang lain. Itulah St. Monicca. Ia tengah bersiap berlayar. Pemiliknya? Dia seorang pemuda bujangan, anak seorang keturunan darah biru di lingkungan kerajaan Nederland. Jhon Reoland Van Loursef namanya.

“Kapten, St. Monicca siap berlayar.” Seorang anak kapal melapor.

Berlahan, Reoland menuruni tangga kapal. Ia begitu berat meninggalkan perasaan yang lama ia pendam. Ia yang kini berusia 18 tahun, rasanya sudah cukup waktu untuk mengikat janji cinta dan setia. Ia jatuh cinta kepada Marcellia Sudhorf, gadis berdarah Hindia Timur itu. Ayahnya berada di lingkungan kerajaan, ibunya orang Hindia Timur, anak bangsawan tanah Pasundan.

Marcellia gadis anggun. Alisnya tipis di atas mata birunya yang bagai cerah cakrawala tanpa sehelai awan. Titik hitam matanya kuat menusuk. Rambutnya berombak seperti gadis Pasundan membuat lenggok wajah bulat ovalnya penuh daya magis. Kulitnya agak cokelat. Banyak mata terpesona kala bibir tipis ranumnya mekarkan senyum.

Tak mungkin Reoland urungkan niatnya juga kali ini, seperti kejadian 3 tahun yang lalu. Bila diurungkan? Huh..! Ia tidak ingin membayangkan. Marcellia termasuk gadis idaman setiap lelaki. Ia tak ingin satu tahun berselang, kelak, ketika ia kembali, Marcellia telah menjadi milik orang lain.

Tiba-tiba, Reoland jadi begitu bersemangat menaiki tangga gereja. Ya, Marcellia selalu di gereja. Membersihkan gereja, membantu pastor tua Jhon Dmusford mempersembahkan misa harian, macam-macam. Reoland dekat dengannya. Dan sepertinya, cinta Reoland tidak bertepuk sebelah tangan.

“Marcellia.”

Gadis anggun bermata biru itu menoleh. Bibir merahnya merekah. Ia tersenyum menyambut pangerannya.

“Aku.. aku ingin berlayar.. berlayar lagi.”

Reoland berkata terbata-bata. Sepintas, wajah Marcellia dirundung mendung. Ada awan-awan cokelat dan hitam bergelantungan dan petir siap-siap menggelegar menjadikan titik-titik bening menodai mata indahnya.

“Dapatkah saya bertanya padamu?” tanya Reonald. Mata Marcellia berbinar. Akhir-akhir ini, pertanyaan itulah yang ia tunggu untuk ditanya pangerannya. Marcellia diam-diam amat mencintai Reoland. Tiba-tiba bayangan gadis dari Hollandia, West Papua, sebuah pulau mirip surga dalam imajinya itu, yang rambut keriting pirangnya terjuntai sebahu menutupi kulit halusnya itu, ia terbayang dalam imaji Reoland. Cepat melintas, hadis bagai penyihir, menghapus semua rasa cintanya pada Marcellia di hati Reoland.

Ya, waktu itu, tiga tahun silam, di pantai Hollandia, salah satu pelabuhan terbesar di pulau Surga itu, ia bertemu bidadari. Ia terpana. Tergoda. Bayanngan Marcellia berlahan tersingkir, terpojok, hingga hilang ketika matanya beradu pandang dengan sepasang mata cokelat manis di pantai Hollandia. Dialah gadis pribumi pulau Surga itu.

“Reoland…”

Hm… maa … maa aaf, maaf Marcellia. Mengapa kau di gereja?” tanya Reoland yang baru saja bangun dari lamunannya itu tergagap menanggapi tepukan tangan Marcellia.

Mendung jelas terlihat di wajah Marcellia. Reoland baru tersadar akan apa yang diucapkannya yang tidak menyambung pembicaraannya. Ia juga melihat mendung itu di wajah bidadarinya.

“Marcellia, maukah kamu menungguku pulang 1 tahun lagi?”

Muka Marcellia memerah. Ia menunduk. Mengangguk dalam malu-malu yang dibuat-buat, tersipu dan bahagia. Kalimat dengan nada-nada demikianlah yang ditunggunya dari tadi. Marcellia sudah ingin lebih dulu mengatakan padanya bahwa ia punya perasaan yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata. Ia ingin celalu dekat dengannya. Ia ingin Reoland menemaninya dalam hidup. Ia ingin mengatakan ia telah jatuh cinta padanya. Tapi siapa dia? Dia hanya seorang wanita Nedherland berdarah Timur. Ia merasa tak pantas mendahului lelaki mengutarakan perasaannya.

“Marcellia, 1 tahun lagi, aku akan pulang. Aku akan kaya dengan Gaharu, Kayu Manis dan Damar dari West Papua. Kita akan menikah.”

Marcellia bahagia. Matanya berbinar.

“Reoland. Saya janji akan setia menunggu kedatanganmu dari menara gereja. Ketika kapalmu merapat, hanya Tuhan yang tahu, betapa bahagianya aku.”

***

15 JUNI 1941, St. Monicca angkat jangkar. Reoland, sejak kecil ia menjadi anak kapal. Ketika itu, ia masih berusia 7 tahun, ketika kapal yang mereka tumpangi karam di laut India. Reoland kecil memeluk sebuah papan, mengapung bersamanya, terombang ambing di tengah gelora samudera Hindia, sampai akhirnya, ia sadar ketika ia berada di rumahsakit Amsterdam. Ia diselamatkan ayah dari ibunya Marcellia, yang juga adalah pedagang rempah.

Ayahnya meninggal pada kejadian itu. Ia kemudian menjadi penguasa St. Monicca, kapal yang ditinggal pergi oleh ayahnya. Bersama ibunya ia hidup tidak lama juga karena tidak lama berselang, meninggal juga, kembali bersatu dengan suaminya di alam baka. Reoland yang baru 10 tahun kala itu harus hidup mandiri.

Ia dengan anak buah kapalnya tidak lagi berdagang rempah Nusantara sejak saat itu. Mereka merintis dan menekuni usaha baru: berdagang gaharu, kayu manis dan damar. Sejak saat itu, ia tidak lagi berlabuh di pelabuhan Banten seperti ayahnya untuk rempat-rempah. Tidak juga di Pasundan dan Ternate-Tidore. Ia kini ke sebuah pulau baru yang aneh, kaya, unik dan misteri, jauh ke timur: West Papua, sebuah pulau dalam kawasan pasifik.

Oh, ya. Soal gadis berambut pirang keriting itu! Sejak 3 tahun yang lalu, ia mengenal seorang gadis Melanesia di pinggiran pelabuhan Hollandia. Ayahnya hanya seorang anak buah kapal yang kerjanya membongkar muatan. Anak gadisnya itu biasa datang ke pelabuhan mengantar makanan buat ayahnya. Oleh kebaikan hati ayahnya, Reoland juga mendapat jatah makan setelah mereka kenal.

Siapa gadis Melanesia itu? Reoland tak tahu siapa namanya. Ia hanya kenal ayahnya, David. Siapa ibunya? Ia tak tahu juga. Dimana rumahnya? Tak penting bagi Reoland. Ia hanya tahu, ia biasa datang ke pelabuhan. Pasti rumahnya tak jauh dari pelabuhan. Ia wanita berkulit cokelat dengan rambut pirang keriting, kemerahan, selalu tergerai setiap angin pantai berhembus. Kaos-kaos tipis yang dikenakan memang kalah kelas dari gaun bertabur pernik hiasan milik Marcelia, tapi kecantikan alamiahnya justru tampil natural dan itu ada di tingkatan tertinggi dalam klasifikasi kecantikan menurut Reoland dalam hatinya.

Apalagi matanya dan bulu mata lentiknya saat ia mengedipkan mata. Lenggokan pingulnya kala melanggah anggun. Kelincahan dan gestur tubuh yang lepas-bebas dan ekspresif itu, semua menjadikan wanita West Papua ini semakin melebihi gambaran bidadari dalam imaji Reoland. Wanita itu telah mengambil seluruh perhatiannya sejak pertama matanya bertemu mata gadis itu.

Pada pertemuan terakhir, Reoland ingat betul, ia pernah duduk bersama dengan gadis itu. Dengan ayahnya, mereka makan bersama di pelabuhan itu. Tatapan dan kedipan mata gadis itu yang tak mampu ia usir jauh dari bayang-bayang sosok wanita ideal menurutnya. Di hadapan wanita West Papua ini, Marcellia jelas jauh tersingkir. Wanita cokelat manis itu tampil tidak dengan satu kelemahan pun di meja pertimbangan dan keputusan dalam hati Reoland.

Kenyataannya, ia lebih dulu telah mengenal Marcellia. Janji akan melamarnya telah terucap. Maka Reoland punya misi khusus untuk perlayarannya ke West Papua kali ini: ia ingin mengenal lebih dekat gadis Melanesia tak bernama itu. Ia ingin menemukan minimal satu saja kelemahan dalam diri gadis Melanesia itu. Ia ingin menjadikan kelemahan gadis Melanesia itu untuk mengusir bayangannya dari dalam hatinya. Ini semua agar dirinya dapat mencintai Marcellia sepenuh hati.

***

AWAL November 1941, St. Monicca dengan selamat membuang jangkar di pelabuhan Hollandia, West Papua. Ia adalah daerah jajahan baru Nederland, yang secara administrasi dan kepengurusan terpisah dengan wilayah jajahan Nederland lainnya.

West Papua adalah pulau misteri yang menggoda banyak pelaut Nederland, sejak tahun 1600, ketika Willem Janz melaporkan perjalanannya menelurusi pantai barat dan selatan Papua, dan penemuannya terhadap sungai Digul, sebuah sungai utama dari pulau misteri itu. Janz lalu menginspirasi Le Maire dan Schouten untuk tahun 1616, menjelajahi Teluk Geelvink dengan Byak dan Serui sebagai dua pulau utama di tengah teluk ini. Lalu giliran Jan Carstenz pada Februari 1623. Bertolak dari Maluku, ia menemukan sebuah gunung salju, lalu menamainya Carstenz.

Setelahnya, pada 24 Agustus 1828, pemerintah Belanda dirikan benteng Fort du Bus di teluk Triton, Kaimana. Benteng yang didirikan oleh komisaris A.J. Van Delden ini jadi simbol kekuasaan Belanda atas West Papua, yang peresmiannya bertepatan dengan ulang tahun raja Belanda, Willem I. Lalu tahun 1875, Belanda resmi mencatat West Papua yang saat itu bernama Nieuw Guinea sebagai wilayah jajahan. Rambatan perdagangan mulai memasuki West Papua sejak 1890, kala berusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij/KPM mulai melayari pesisir pantai utara West Papua, dilanjutkan pada 1894, pos perdagangan Belanda didirikan di Manokwari.

Pada 23 Mei 1894, agama Katholik sudah masuk ke West Papua melalui Le Cocq d’Armandville SJ di Sekeru, Fak Fak. Lalu pada 16 Mei 1895, Inggris dan Belanda membagi Nieuw Guinea menjadi dua. Belanda membagi West Papua yang telah menjadi bagiannya tahun 1898 menjadi dua wilayahafdeling, yakni Afdeling Noord Nieuw Guinea berpusat di Manokwari danAfdeling West en Zuid Nieuw Guineaberpusat di Fak Fak. Lalu tahun 1901, satu afdeling lahir, Zuid Nieuw Giuneaberpusat di muara Kali Maro, Merauke. Lalu tahun 1904, status Hollandia menjadi sub-afdeling dari Afdeling Noord Nieuw Giunea.

Pada 7 Maret 1910, dicetuskan Deklarasi Batavia oleh Belanda. Isinya, wilayahNederlands Nieuw Giunea tidak termasuk wilayah Hindia Belanda. BatasHindia Belanda adalah dari Aceh sampai Maluku. Sementara Nederlands Nieuw Guinea bersana Surinamelangsung di bawah pengawasan Belanda. Maka St. Monicca memang tidak susah untuk mendapatkan akses kepada penduduk setempat di Hollandia karena ia telah berkembang cepat sejak 1890-an karena perdagangan dan pelabuhan laut telah dibangun.

Sejak pagi, anak buah kapal St. Monicca sudah sibuk dan hilir mudik bongkar muatan. Beberapa barang yang dititipkan orang-orang di Nederlands untuk pemerintah dan orang-orang di West Papua diturunkan. Ayah dari gadis itu juga turut kerja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, anak gadisnya datang di siang hari mengantar makan buat ayahnya.

Dengan cerdik, Reoland mendekati gadis Melanesia itu, yang belakangan diketahui bernama baptis Maria Imaculatta. Berhari-hari ia mendekati, duduk bersama, bercerita panjang dan lebar, makan bersama, Reoland tak menemukan setitikpun kelemahan pada wanita Melanesia itu. Dalam pandangannya, penilaiannya, Maria Miaculatta tampil sempurna di hadapannya!

Tapi ia berusaha sekuat tenaga agar ia sendiri tak yakin dengan penilaiannya. Pasti ada satu kelemahan dari Maria, pikirnya. Maka sederet wanita yang selama ini ada dalam daftar wanita ideal dalam batok kepalanya itu (tentu saja Marcellia ada di urutan pertama daftar ini) ia hadirkan sebagai pembanding. Wanita Melanesia asal bibir pantai utara West Papua ini tetap tak tertandingi. Kecantikan naturalnya, budi baiknya, senyum meronanya, kesederhanaan dan kesopanannya, gerak ekspresif yang energik dengan tetap mempertahankan gemulai standar seorang wanita itu, semua hanya membuat Reoland terpana: ia temukan wanita yang pantas berada di urutan pertama daftarnya. Maria mengalahkan semua wanita yang ia puja!

Semakin ia mendekati, berusaha menggali segala sesuatu tentang diri Maria, ia semakin jatuh hati padanya. Semakin gigih ia mencari kelemahan, semakin banyak pula kelebihan dan hal-hal positif yang ditampilkan Maria, makin kuat pula cintanya. Bayangan Marcellia awalnya hadir duapertiga dalam imajinya. Semakin ia mengenal Maria, bayangan Marcellia menjadi setengah. Kini, hampir seperempat saja tersisa bayangan Marcellia. Lebihnya? Maria, gadis West Papua itu telah merebutnya.

Segala yang baik yang mesti dimilik seorang wanita ideal dalam imajinya sepertinya telah menjadi bahan-bahan yang digunakan Sang Tuhan membentuk wanita West Papua yang satu ini.

Setelah barang dibongkar, dagangan telah laku, kini Reoland memerintahkan anak buahnya membeli gaharu, damar, dan kayu manis dari beberapa tengkulak yang didatangkannya dari beberapa daerah terpencil di sekitar Teluk Triton.

Setelah muatan penuh, St. Monicca bersiap untuk berlayar kembali. Dan kenyataan bahwa ia akan berlayar kembali meninggalkan Maria Imaculatta itu membuat malam itu menjadi malam terberat bagi Reoland. Ia tidak dapat tidur malam itu. Betapa tidak, ia akan segera tinggalkan gadis itu, Maria, seorang anak dara pulau Sorga yang sempurnanya melebihi bidadari, yang keseluruhan tubuh dan jiwanya seakan-akan dibentuk dari segala unsur-unsur dalam kriteria wanita idaman menurut seorang Reoland.

Yang terbaik ada di depan mata. Haruskah ia meninggalkannya? Pikiran ini membuat matanya tak terpejam. Lalu berlahan-lahan terpejam tapi tak kunjung dibawa lelap.

Asisten mandor dek gudang yang mengontrol semua aktivitas barang masuk dan keluar kapal yang bertanggungjawab pula atas keberadaan semua barang di atas St. Monicca yang tetap terjaga hingga larut malam itu telah mencurigai kegelisahan kaptennya, Reoland. Ia terlihat seperti orang yang punya beban pikiran, berkali-kali mondar mandir di gelandak kapal, lalu masuk lagi ke biliknya. Tiga kali. Tapi siapa dia di kapal dagang ini? Ia tidak berani bertanya.

***

1 DESEMBER 1941. Pagi-pagi, di ufuk timur, fragmen-fragmen sinar matahari yang berhasil menerobos pohon-pohon kelapa dan bakau di bibir pantai utara telah berhamburan hingga ke dalam kapal. Matahari semakin meninggi. Lalu lihatlah, St. Monicca yang diam manis di bibir pantai Hollandia dengan pasir putih indah West Papua itu kentara dirusak pemandangannya oleh aktivitas anak buah kapal yang siap-siap. Sangat sibuk.

Di pelabuhan, ciumlah aroma ikan bakar dari kelompok anak buah kapal yang sedang bakar-bakar, acara tetap anak kapal St. Monicca sebelum meninggalkan West Papua. Numpung ada di pulau Surga, pikir mereka. Ikan sesegar itu jarang di Amsterdam. Lalu lihatlah barisan anak buah kapal yang sibuk mengangkut sayuran hijau, umbi-umbian dan tepung sagu untuk bekal perjalanan. Beberapa anak buah kapal sibuk dengan bibir yang tak henti berolahraga: bernegosiasi dengan penduduk West Papua untuh harga beberapa jenis burung Cenderawasih untuk dibawa pulang ke Nederland sebagai oleh-oleh.

Matahari telah di atas kapal saat St Monicca siap angkat jangkar. Tapi sang kapten, Reoland, ia tidak ada di kamarnya sejak pagi. Ia hilang tanpa jejak. Di atas mejanya dalam kamar, hanya ada secarik kertas yang ditandatangani Reoland, yang isinya memerintahkan asistennya, Van Boegar, yang tak lain adalah pamannya sendiri, untuk memimpin St. Monicca kembali menuju Amsterdam, karena mengikuti situasi dunia antara Jepang dan Amerika akhir tahun itu, Reoland telah berfirasat buruk.

Satu bulan, seluruh anak kapal St. Monicca mencari Jhon Reoland Van Loursef. Hollandia geger dengan hilangnya seorang anak bangsawan bernama Jhon Reoland Van Loursef. Segala usaha dilakukan. Namun Ia tidak ditemukan. Lalu tibalah putaran waktu pada Minggu pagi tanggal 7 Desember 1941. Perang Pasifik pecah, dimulai oleh serangan armada Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawai. Pagi itu, 19 kapal dan 122 pesawat milik Amerika dihancurkan Jepang. Setidaknya Amerika yang sesumbar mulut memproklamirkan diri jadi jawara dunia tunduk dengan menjadi mayatnya 2.400 pasukannya di ujung keganasan barisan Samurai Jepang. Dengan cepat Jepang menguasai pasifik, sudah termasuk hingga ke West Papua. Belanda di West Papua segera menyingkir ke Australia.

St. Monicca segera menghentikan pencarian dan bersiap balik ke Nederlands. Tapi tanpa Reoland. Ya, tanpa sang kapten dan pemilik kapal. St. Monicca kini sepenuhnya dalam kendali Van Boegar.

Sekembalinya, di Amsterdam, St. Monicca disambut seorang gadis jelita yang telah lama menunggu kapal putih itu merapat di pelabuhan. Dialah Marcellia Sudhorf. Dengan dandanannya yang teramat menawan, gadis itu terlihat bagai bidadari.

Kapal merapat. Anak kapal turun satu demi satu. Boegar yang tak mengerti maksud Marcellia di dermaga pelabuhan yang ramai itu hanya meliriknya sekilas saja sambil berdoa dalam hati, semoga anak perempuanya itu kelak secantik dia.

Tidak bertemu yang ditunggu, Marcellia naik ke menara gereja. Selama hidup ia tidak menikah. Ia tolak belasan lelaki yang mendekatinya. Hanya satu yang dia cintai: Jhon Reoland Van Loursef. Ia menunggu Reoland dari menara gereja, seperti janjinya, sampai ajal menjemput Marcellia pada usia 57 tahun. []
https://www.facebook.com/plugins/like.php?action=like&app_id=1718821215056423&channel=http%3A%2F%2Fstaticxx.facebook.com%2Fconnect%2Fxd_arbiter%2Fr%2F18W0fzbK7xg.js%3Fversion%3D42%23cb%3Dfe33f9cfc0834c%26domain%3Dwww.sastrapapua.com%26origin%3Dhttp%253A%252F%252Fwww.sastrapapua.com%252Ffb3708a98f6968%26relation%3Dparent.parent&container_width=308&href=http%3A%2F%2Fwww.sastrapapua.com%2F&layout=button_count&locale=en_US&sdk=joey&show_faces=true
https://www.facebook.com/plugins/share_button.php?app_id=1718821215056423&channel=http%3A%2F%2Fstaticxx.facebook.com%2Fconnect%2Fxd_arbiter%2Fr%2F18W0fzbK7xg.js%3Fversion%3D42%23cb%3Df3bb72cd8b3f304%26domain%3Dwww.sastrapapua.com%26origin%3Dhttp%253A%252F%252Fwww.sastrapapua.com%252Ffb3708a98f6968%26relation%3Dparent.parent&container_width=308&href=https%3A%2F%2Fwww.sastrapapua.com%2F&layout=button_count&locale=en_US&mobile_iframe=false&sdk=joey

Print Friendly and PDF

Share on FacebookShare on TwitterShare on Google Plus

Tentang : Pace Ko’ Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko’Sapa diolah oleh redaksi Ko’Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

Di Ufuk Timur Negriku Papua

Karya : Albert R

Di ufuk timur negeriku Papua tercinta.
Hamparan pulaumu yang luas diatas samudera raya
Hutanmu menghijau, bagaikan permadani yang terbentang
Lautmu yang membiru menghiasi bibir pantaimu
Menyembunyikan keelokan dan kekayaan alammu dalam kebisuan

Tanahmu yang subur memberi kehidupan tanpa menabur
Butir-butir embunmu.. memberi kelegahan bagi flora dan fauna
Bagaikan sang induk yang menyelimuti anak-anaknya, untuk memberikan pertumbuhan
Perutmu terkandung, gumpalan emas dan batu pualam yang tiada ternilai
Pusarmu mengeluarkan butiran-butiran minyak dan gas yang melimpah

Nyanyian suara burung bergemah, membuka syaduh
Menyambut datangnya fajar, menghentar perginya mentari ke peraduan
Hembusan angin membisikan nyanyian alam
Dedaunan dan ranting pun menari mengikuti irama angin
Oh sungguh merdu nyanyian alam Papua.

Keaneka ragaman suku dan budaya, memperlihatkan eksotisme negeriku
Nyanyian suku-suku dalam berbagai bahasa, diiringi dentingan tifa dan seruling
Menari dan berdendang memperlihatkan keelokkan tubuhnya
Menyatakan kepada bangsa, bahwa kami ini satu dalam keanekaragaman budaya dan bahasa
Sebuah bangsa, yang majemuk dan besar, berbeda namun satu dalam gugusan pulau Papua.

Indahnya alamku Papua, tarian dan nyanyian bangsaku merupakan Anugerah Sang ILAHI
Karya terindah dalam ciptaan-NYA bagi anak-anak negeri Papua
Mencerminkan keindahan dan kebahagiaan hati sang Pencipta
Itulah negeriku Papua, di ufuk timur kau berdiri gagah dan abadi selamanya.

Depok, 01 Oktober 2011
Jam : 23.30 WIB

https://www.facebook.com/plugins/like.php?action=like&app_id=1718821215056423&channel=http%3A%2F%2Fstaticxx.facebook.com%2Fconnect%2Fxd_arbiter%2Fr%2F18W0fzbK7xg.js%3Fversion%3D42%23cb%3Df3a3ee48c068c7%26domain%3Dwww.sastrapapua.com%26origin%3Dhttp%253A%252F%252Fwww.sastrapapua.com%252Ff10fbc3945324e%26relation%3Dparent.parent&container_width=308&href=http%3A%2F%2Fwww.sastrapapua.com%2F&layout=button_count&locale=en_US&sdk=joey&show_faces=true

https://www.facebook.com/plugins/share_button.php?app_id=1718821215056423&channel=http%3A%2F%2Fstaticxx.facebook.com%2Fconnect%2Fxd_arbiter%2Fr%2F18W0fzbK7xg.js%3Fversion%3D42%23cb%3Df3a86c617cca444%26domain%3Dwww.sastrapapua.com%26origin%3Dhttp%253A%252F%252Fwww.sastrapapua.com%252Ff10fbc3945324e%26relation%3Dparent.parent&container_width=308&href=https%3A%2F%2Fwww.sastrapapua.com%2F&layout=button_count&locale=en_US&mobile_iframe=false&sdk=joey

Print Friendly and PDF

Share on FacebookShare on TwitterShare on Google Plus

Tentang : Komunitas Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko’Sapa diolah oleh redaksi Ko’Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

Kamus papua

Bahasa Melayu Papua memiliki sejarah panjang di tanah Papua (lihat Bahasa-Bahasa Papua dan Bahasa Indonesia dong bakalai di Tanah Papua). Bahasa Melayu Papua kemudian berkembang dalam varian logat (dialek) Pantai Utara, Pantai Selatan dan Pegunungan Tengah (Mee, Moni, Hubla, Yali, Lani dan Ngalum), bedasarkan pelafalan bahasa ibu masing-masing wilayah tersebut.

Bahasa Melayu Papua secara umum di mengerti olah masyarakat dari kota hingga ke kampung-kampung, dari dari anak-anak hinga tete dan nene.

Secara stuktur, bahasa Melayu Papua berbeda dengan bahasa Indonesia, dalam beberapa kata pengertiannya pun berbeda dengan pengertian dalam bahasa Indonesia. Kamus Melayu Papua dan Istilah Sehari-hari merupakan hasil penelusuran Komunitas Sastra Papuadalam mengumpulkan data kosa kata Melayu Papua.

Beberapa contoh bahasa Melayu Papua (MP) dan bahasa Indonesia (BI);

“Maria kam pu mama de di?” (MP)
“Maria mamamu dimana?” (BI)

dalam Melayu Papua; kam > kamu, pu > punya, de > dia.

“Bapa lapar ni kam ada masa apa eee?” (MP)
“Bapamu lapar, apa yang sudah kalian masak?” (BI)

Dalam Melayu Papua terdapat beberapa partikel tambahan seperti e, tetapi dalam kata seperti to, mo tidak di tambah huruf h > toh, moh dst.

Index Kosa Kata

A

Ambe: Ambil
Anana: Anak-anak
Adoh/ado/adu/aro: Aduh

Afker/Afkir: Kadaluarsa

Amber: Orang Berada (Pegawai negeri, Karyawan di perusaan) atau Pendatang (kata ini diserap dari Bahasa Biak)

Ale: Kamu

Alang-Alang: rumput Alang-Alang
Ade: adik

B

Baweto: Marah-marah
Bapa: Bapak/Ayah
Batariaak: Berteriak
Bage: Bagi
Balompat: Melompat
Blom/Blom: Belum
Blakang: Belakang
Bera: Berak
Bilolo: Siput laut
Beranak/branak: Melahirkan
Bes: Bis
Bini: Istri
Binongko: Kampungan
Bon-bon: Permen
Bangkret: Bangsat (biasa digunakan untuk memaki)

Balobe: Mencari ikan pada malam hari tanpa menyelam

Bale: Balik
Beso: Besok
Berger: Gelas bertangkai yang terbuat dari seng atau tembaga
Bela/Bla: 1. Belah, 2. Pukul

Bobo: Minuman keras lokal dari pohon bobo

Bokar/Bokmar/Tokar: Besar
Bus-bus: Semak belukar
Babingung: Kebingungan/linglung
Baek: baik
Bakalai/Bakulai: Berkelahi
Bayau; Tentara
Bore: Merayu/menggoda (kata ini di ambil dari akar pohon bore, akar tuba”
Bokor: Pinggan besar yg cekung dan bertepi lebar

C

Cakadidi: centil/genit
Cuki: bersetubuh
Cukimai: bersetubuh dengan ibu (mama), kata makian.

Co: coba
Cerek: Tempat air minum yg bercerat, dibuat dr tembaga, kaleng, dsb.

D

Dara: Darah
De: Dia
Dolo: Dulu

Dorang/Dong: Mereka

Dapa: Dapat
Deng; Dengan
Dusu: Kejar

F

Farek: Tidak peduli
Fly: Mabuk
Foya: Tipu
Fui-fui: Guna-guna (ilmu menyentet)

G

Garis: Korek Api
Goyang: Dansa/Menari

Gora: Jambu Kepal/Bol

Gode: gendut/gemuk

Gae: Tagae (terjepit), baku gae
Gyawas: Jambu biji
Gosi: alat kelamin pria
Goso: Gosok
Gula-gula: Permen

H

Hantam: 1. Pukul/Hajar. 2. ML (Baku hantan/Baku hajar > Berkelahi)

Hop: Stop
Hosa: Capek

J

Jang: Jangan
Jato: Jatuh
Jlaskan: Jelaskan

K

Kacuping: Kecil
Kastau: Memberi tahu
Kastinggal: Meninggalkan, membiarkan
Kamorang/Kamong/Kam: kalian

Ko/koi: Kamu/engaku

Kitorang/Kitong/Torang/Tong: Kita

Kasbi: Singkong

Keladi: Talas

Kaskado: Kadas (penyakit kulit)

Kolot/Klot: Alat kelamin laki-laki

Kaliabo: Lonte

Kayu: Metafora untuk kelamin laki-laki yang sedang ereksi
Kore/Kore-Kore: Mengusik

Kombrov: Gurita (serapan dari bahasa Biak)

Kakarlak: Kecoak (serapan dari Bahasa Jerman)

Komen/komin = Orang asli Papua (serapan dari bahasa Biak)

Ka: ke

Kacupling: Kecil

Kadera: kursi (serapan dari bahasa Portugis?)

Kaka: kakak

Kalabur: sembarangan, kurang teratur

Klakuan: kelakuan, sikap

Klemaring/kelemarin: kemarin

Kapala: kepala

Kapala batu: keras kepala

Karikil: kerikil

Karosi: kursi

Kincing: kencing

Kintal: halaman

Klir: warna

Konto: kentut

Koteka: pakaian tradisional laki-laki Hubula Lembah Balim

Kukis: kue

Kusu kusu: Kus Kus, hewan endemik Papua

Keker: Bidik, intip
Kelap: Lapar
Karao; mencuri
Krans: Koran

L

Lao-Lao: Bodoh, terlambat berfikir
Loyo: malas, lemas, tidak berdaya

Lur: intip

Lat; terlambat
Liat: Lihat
Laen: Lain
Langgar: Menyeberang

M

Mama: Mama/Ibu
Manggurebe/Mangkerebe: Berebutan
Manggarong: Mendengkur/ngorok
Mar: Mari

Maitua: mama tua

Mace: perempuan muda
Mangko: Mangkuk

Macang: macam, seperti

Malele: meleleh

Mampos: mampus, mati

Mancari: melakukan kerja
Mamayo: kaget, heran, takjub

Mangamuk: mengamuk

Mangarti: mengerti

Mangkali: barangkali

Maniso: sibuk/repot

Manyao: menyahut

Marinyo: polisi

Masu: masuk

Mata jalan: pangkal jalan, pertigaan

Mata ruma: keluarga inti

Meti: air surut

Makan bunuh: Makan banyak
Mono/Mono-Mono: terlambat berfikir
Mo: Mau

Molo/tum: menyelam

N

Nao-Nao: Bodoh, terlambat berfikir
Napo: Napsu/Genit

Noge: Teman (serapan dari bahasa Mee)

Nene: nenek

Nan: Nanti

Nae: naik

Nona: panggilan anak perempuan
Nasikray: Tikus (di gunakan di Wamena)

O

Oom Paman

Ompai: Lelaki, (serapan dari bahasa Wandamen)

P

Pante: Pantai
Panta: pantat
Pake: Pakai
Paku: Pukul

Pica: Pecah

Pi/Pigi: Pergi

Pu/Pung: Punya

Paitua: Bapa tua

Pace: pemuda

Piso: Pisau

Palungku: tinju
Panakut/Panako: Penakut

Pangkotor: kotor

Parampuan: perempuan

Paskali: sangat tepat

Pata: patah, petik

Pica: pecah
Piso: Pisau

Polo: peluk

Pono: penuh

Poro: perut
Puti: Putih
Plan/Plan-Plan: Perlahan/Prelahan-lahan

R

Reken: hitung
Rabik/Rabe: Sobek/Robek

Rep/Ref: karang di laut
Ruma: Rumah

S

Sa: Saya
Seno-Seno: Bodoh, terlambat berfikir
Sekola/Skola: Sekolah

Su/suda: Sudah

Sagero/Saguer: Minuman keras lokal yg diperoleh dari mayang kelapa
Sebla: Sebelah

Sei: Menghindar/Mengelak
Smangat: Semangat

Slep: Terpeleset

Sopi: hasil produk lain atau penyulingan sagero, sama minuman keras juga

Sono: nyenyak

Soa-soa: biawak

Saham: kangguru (serapan dari bahasa Marind)
Suanggi: setan/hantu/makhluk jadi-jadian
Swara: Suara

T

Talipa: Terlipat
Tatutup: Tertutup
Tempo: Cepat
Testa: Dahi
Tidor: Tidur
Tra/Tara: Tidak

Trus: Terus
Tagoyang: Bergoyang
Tabale: Terbalik
Tabuka: Terbuka
Tatoki: Membentur
Tlamburan: Terhambur, Berhamburan

Tete: Kakek

Teteruga: Kura-kura/Penyu

Tafiaro: jalan-jalan tanpa tujuan (serapan dari bahasa Manado yang arti sebenarnya dalam bahasa Manado adalah terhambur, berantakan)

Toki: 1. Ketuk. 2. Minum Miras

U

Urip: Burung Nuri

W

Wang: Uang

Y

Yombex/Yongkru; Iya (Yombe; serapan dari bahasa Biak yang kemudian di tambah huruf x)

Yaklep: Ungkapan untuk seseorang yg kurang disukai/dipakai dalam bercanda

Yakob: Burung kakaktua

Bagi yang ingin memakai, mengutip kamus ini harus mencantumkan alamat link atau Komunitas Sastra Papua sebagai sumber kutipan.
Ko’Sapa@2016

BAHAGIA DALAM PERIH

#CerpenPapua
Karya pribadi, semoga D’BLACK berkenan, di sela sela fokus kita pada tim kebangaan PERSIPURA JAYAPURA.

BAHAGIA DALAM PERIH
——
Aku tidaklah terlahir dari keluarga berada yang berkecukupan, sebagai seorang laki laki yang terlahir di sebuah pulau kecil di samudera pasifik, dibesarkan dalam keluarga nelayan yang terbiasa hidup seadanya, tanpa telalu banyak hayalan ke depan. Sejak kecil kami ditanamkan doktrin untuk makan untuk hari ini saja, besok adalah besok, janganlah serakah, biarkan alam berjalan dengan keseimbangannya.
Sebuah pola pikir yang sangat standar kalau tidak mau dikatakan sangat kuno
tapi bisa juga dikatakan sangat maju, tergantung dari sudut mana kita menilai

Ruben… ko tolong kase bersih pukat ( jaring ikan), nanti malam bapa mau pasang akan
Ruben… kam jang main main ikan tu, kase tinggal dong besar dulu baru ambil dorang makan, itu masih kecil.
itulah kalimat yang seringkali keluar dari mulut ayah, paman, om, bapade dan bapatua dorang ketika kami pulang dari memancing di tepian pantai yang indah
Bagi mereka, ikan yang sebesar telapak tangan orang dewasa masih termasuk kecil sehingga tidak boleh ditangkap. Biarkan saja sampai besar.
Namun dari keseharian yang sering kulihat ketika para orang dewasa pulang dari Laut adalah sekumpulan ikan seukuran tubuh anak usia 5 tahunan
wahh jadi inilah ukuran ikan yang dikatakan sudah besar ? wawwwww. 🙂

Setamat sd di kampung, orang tuaku memutuskan untuk mengirimkan ku tinggal di kota demi mengenyam pendidikan lanjutan karena di kampungku belum ada SMP apalagi SMA. Pola berpikir yang dikemudian hari sangat kukagumi dan kubanggakan dari orang tua yang hanya lahir dan dibesarkan di kampung kecil.

Kebetulan di Kota Jayapura ada salah seorang adik ayah yang sudah bekerja walaupun bukan sebagai pegawai tingkat atas, namun kehidupannya boleh dikatakan cukup baik. Namanya Bapade Marlon, adik kandung ayah. Dari cerita yang kudengar dari ayah, Bapade Marlon punya sebuah rumah kontrakkan, sehingga aku bisa menumpang tinggal bersamanya.
Bapade Marlon pun dalam beberapa kesempatan ketika pulang ke kampung, sudah mengajak ku untuk setelah Tamat SD, pergi tinggal bersamanya di Kota Jayapura. Sungguh aku bangga padanya. Melanjutkan sekolah di sebuah SMP negeri di Jayapura, kujalani dengan penuh semangat. Bapade Marlon sangat menyayangiku, diberikan sebuah kamar kecil sabagai kamarku.
Sebagai anak kampung yang terbiasa bekerja keras, aku sudah banyak diberi bekal oleh orang tuaku, untuk tidak selalu menjadi beban untuk orang lain, slalu berterima kasih dan harus berusaha mandiri. Hal itu benar benar sudah tertanam di dalam jiwaku, sehingga walau aku tinggal bersama bapade Marlon yang adalah adik kandung ayahku sendiri, aku tidak mau menjadi beban, setiap pagi aku mebersihkan halaman, mengisi semua bak air dan drum drum di dapur dengan air sampe penuh. mencuci sepeda motor bapade marlon, dan memotong rumput di halaman agar selalu terlihat indah dan rapi.

Setelah semua pekerjaan itu rampung, akupun berangkat ke sekolah yang cukup jauh letaknya, kadang jika kiriman dari orang tua dikampung masih cukup, kupakai untuk naik taksi. (Taksi di Jayapura bukanlah taksi di Pulau jawa, yang seperti sedan,tapi taxi di Jayapura itu model starwagon, atau L 300). Kadang untuk menghebat biaya, tak segan segan aku berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan berharap ada Truk ataupun kendaraan bak terbuka yang berbaik hati mau ditumpangi

ooommm… bisa numpang ke abe ka ? ahh… tong tra ke abe !!
begitulah dialog harian yang sering terjadi dengan para pemilik kendaraan yang ingin ditumpangi.
kadang kita mendapatkan orang yang berbaik hati, namun tak jarang banyak yang semakin menginjak pedal gas kendarannya ketika melewati kami. Dan kamipun maklum, itu berarti mereka tidak mau ditumpangi. Seringnya mengalami hal hal itu membuat kami tidak marah, kami mencoba peruntungan berikutnya, sampai akhirnya ada yang mau kami tumpangi. resikonya kadang sampai di sekolah terlambat, ataupun terlalu pagi. Beberapa kawan yang senasib pun sering melakukan hal seperti ini, yang dalam istilah kami Leften Blakos rn entah istilah itu dari mana, tapi merupakan istilah yang sudah sangat populer di kalangan kami.

SMP kulalui dengan baik, dalam kesederhanaan, aku bisa menamatkan SMP dengan hasil yang cukup. Bantuan dan Kebaikan Hati Bapade Marlon cukup membantuku, dengan kebaikannya pula, aku dibantu masuk ke sebuah SMA negeri yang merupakan salah satu SMA populer di Kota Jayapura.

Seiring waktu yang terus berjalan, Bapade Marlon pun menikah dengan teman kerjanya, Mamade Della, begitulah namanya, sangat cantik jelita. Orang
Papua yang cantik jelita, berambut ikal kemerah merahan, berkulit bersih dan manis. Aku sangat kagum dengan Penampilannya ketika pertama kali dia datang ke rumah kontarakan diajak Bapade Marlon.
Dia pun begitu ramah menyapa ku, hatiku berbunga bunga saat itu tentunya kalau Bapade Marlon menikahi KK ini, pasti Bapade Marlon Bahagia sekali. Dan aku berjanji akan selalu mendampingi mereka. Aku akan selalu mengerahkan semua tenaga ku untuk melayani mereka, menjadi pembantu bagi mereka, mengabdi bagi mereka berdua. aku sangat iklas. ini adalah tekadku. Untuk membalas kebaikan bapade marlon yang sudah ikut membantu membayar uang sekolah jika ayahku di kampung belum ada uang.

Walaupun bapade Marlon Pegawai Biasa, namun kerajinan, keuletan dan ketekunan bekerjanya membuat dia sering ditugasi oleh kantor tempat bekerja untuk berkunjung ke daerah daerah lain dan itu berarti ada sisa uang jalan yang cukup untuk keperluan bapade sendiri dan tentunya akupun sebagai keponakan kandungnya tak akan dilupakan.

Pesta pernikahan Bapade Marlon dan mamade Della berjalan sederhana
namun meriah, dihadiri kawan kawan kerja bapade, para tetangga, ayah dan ibuku menyempatkan diri datang untuk ikut mendampingi. sepeninggal kakek dan nenek, ayahku sebagai anak tertualah yang selalu menjadi wakil bagi keluarga walau secara ekonomi, ayahku bisa dikatakan paling pas pasan, tapi adat dan tradisi kami membuat ayahku masih punya posisi yang baik dalam keluarga. Sesuatu yang kadang kutertawakan, karena bagiku ayahku dan keluargaku tak punya cukup harta, kadang masalah ekonomi membuat kehadiran ayahku hanyalah formalitas belaka Karena tentu tidak akan berbuat banyak jika berbicara soal dana.

Kini rumah kontarakn Bapade marlon sudah terisi 3 orang, bapade, mamade dan aku. Tahun pertama kehidupan kami berjalan baik dan penuh sukacita. Mamade yang cantik jelita, dan merupakan orang berpendidikan tinggi sangat dispilin, ingin seisi rumah itu bersih dan rapih. Walau aku ini anak kampung, dari desa nelayan, tapi soal kebersihan dan kerapihan jangan ditanya, orang tua ku sudah cukup melatih aku sejak kecil. Sehingga aku tak kesulitan menyesuaikan diri dengan gaya Mamade Della.

Namun.. seiring berjalannya waktu pula… sikap Mamade Della yang dulu begitu
manis, mulai berubah sedikit demi sedikit, aku sering ditegur, sering dimarahi, hanya karena ada bak air yang belum terisi penuh. Padahal hal itu tak pernah dipersoalkan Bapade Marlon. Dan aku
tak pernah malas dan sengaja, namun itu terjadi karena kegiatan di SMA ku yang makin padat sehingga aku sering kesulitan membagi waktu dan tenaga.

ruben.. kenapa pot bunga pica tu,
ko tra bisa perhatikan ka ?
bentak mamade ketika didapatinya Pot BUnganya Pecah, entah karena anjing
yang tabrak atau apa, aku pun tak mengerti, tapi akulah tempat pelampiasan. Hal ini dikarenakan akulah yang sering mengurusi halaman dan taman bunga. sehingga jika ada hal hal buruk yang terjadi, akulah yang akan dianggap paling bertanggung jawab. Bapade Marlon juga yang dulu begitu memperhatikan ku, kini lebih banyak perhatian pada istrinya, hal yang sangat wajar bagiku.

Namun suatu ketika Bapade Marlon mulai ikut memarahiku, kadang ikut memaki ku karena kesalahan kesalahan yang tak ku sengaja.
Lama lama setiap aku dibentak Mamade Della, Bapade Marlon pasti akan ikut memarahi ku. Perubahan demi perubahan terjadi. Aku terima semua itu, karna pikirku, merekalah tempat aku menumpang hidup dan sekolah, tanpa mereka aku harus kemana ? semua ini membuat aku tabah dan kuat. Dengan Penuh kerendahan hati aku selalu meminta maaf dan berjanji memperbaiki semua kesalahan yang jujur saja, kadang ditolak oleh hati kecilku karena aku merasa bukanlah penyebabnya.

Karir Bapade marlon makin baik, sehingga Rumah Kontarakan semakin dipenuhi banyak barang barang bagus sampai suatu ketika aku diminta sama Bapade Marlon untuk pindah ke sebuah kamar kosong di bagian belakang, yang dulunya dipakai sebagai Gudang. hal ini dikarenakan kamar dalam rumah yang kutempati harus dipakai oleh mamade untuk menaruh lemari pakaian Bapade dan mamade. Kuturuti semua itu dengan baik tanpa sedikitpun protes.
Sebagai anak kampung, walaupun tinggal d sebuah kamar kecil yang dulunya gudangpun, bagiku sudah jauh melebihi lumayan.

Keluarga Mamade della dari kota lain sering datang berlibur, walau
mereka sebaya denganku namun sebagai keponakan Bapade dari kampung, aku selalu menempatkan diriku lebih rendah melayani mereka dengan baik, mulai dari mengurusi keperluan mereka, sampai menyiapkan tenaga kapan saja bila diperlukan mereka. Sejak aku tinggal di belakang rumah, kamar kecil bekas gudang itu kusulap menjadi kamar bujang yang keren dan indah. Sedikit jiwa seni yang kuwarisi dari kakekku yang tentunya adalah ayah dari bapade Marlon juga, membuat dimana aku tinggal, pasti indah, bersih rapi dan menarik dipandang. Sebuah kelebihan yang sangat ku syukuri.

Bapade Marlon mulai jarang melihatku, mungkin karena dia lelah bekerja sehingga setiap pulang kantor, harus istirahat, malamnya keluar lagi karena ada acara kantor, kadang juga keluar bersama Mamade Della.
karena letak kamarku di belakang dan terpisah dari Rumah induk, membuat makin lama aku makin merasa sendiri. Mamade sering memarahiku, membentak dan mencaci maki. Semua itu kuterima dengan baik, mungkin mamade cape bekerja sehingga sedikit tegang , pikirku. Bantuan keuangan dan hal lain dari Bapade Marlon mulai berkurang justru di saat aku SMA, keperluan sekolah makin banyak.

Aku tidak protes, aku jalani semua, kadang aku ikut beberapa kawan, bekerja di proyek proyek galian saluran kabel, membersihkan halaman kantor kantor Pemerintah. Sebagai pemuda kampung, aku tidak punya ego yang tinggi, sehingga semua itu kujalanai dengan tabah.
Kupenuhi keperluan ku sendiri, sementara ayah dikampung yaang sudah mulai lanjut usia, sudah tidak bisa berbuat banyak.
Ibuku apalagi, seorang wanita kampung biasa. tak mungkin bisa membiayaiku lagi. Kadang aku termenung, kenapa ya aku alami semua ini ? kenapa aku begitu susah ? kenapa aku sangat kekurangan ?

Di SMA ku mungkin akulah siswa paling tidak punya apa apa, semua semua main pinjam dan berharap kebaikan hati kawan kawanku. Perubahan perubahan yang terjadi kian lama kian membuat aku merana.
Sebagai siswa SMA kelas 3 aku bukanlah anak kecil lagi, aku harus mampu menjalani hidup ini dengan mandiri. Sikap Bapade Marlon semakin berubah, Mamade Della sering memberi masukan masukan yang memojokkan aku,
hal ini membuat Bapade Marlon sering sekali membentak, malah memaki ku. Akupun mulai tahu diri, janganlah aku menjadi beban dan sumber masalah bagi mereka, mungkin mereka perlu ketenagan dan kesendirian untuk menata kehidupan rumah tangga baru mereka.

Melalui perenungan yang dalam dan tekad yang bulat, kuputuskan untuk pamit dari Rumah Bapade Marlon. Mamade Della kelihatannya sangat senang mendengar keputusanku, walau dia mencoba bersikap biasa saja dan berpura pura menahanku,
Sedangkan Bapade Marlon ? dia malah diam seribu bahasa. Aku pergi dengan barang seadanya yang kumiliki, tinggal tidak jauh dari SMA ku, membangun Gubuk kecil di lereng gunung. Kebetulan di lereng
gunung itu ada juga beberapa gubuk yang dibangun oleh KK KK yang sedang Kuliah.
Aku sangat kagum dengan mereka, kutiru segala pola hidup mereka, mulai dari membuat kebun kasbi(singkong) dan kebun tanaman sayur mayur untuk mencukupi kebutuhan makan sehari hari. Beras bisa kubeli sekali kali jika ada kiriman uang dari kampung atau hasil dari mana saja.

Aku berusaha menyimpan semua sikap Bapade marlon dan mamade Della padaku, namun dari beberapa tetangga yang kebetulan kenal sama ibu dan ayahku, Orang tuaku di Kampung mengetahui itu semua. Ayahku menyikapinya biasa saja, dia selalu menguatkan aku, mengatakan bahwa anak laki laki tra boleh lemah. Hidup itu penuh perjuangan.
Namun Ibuku tidak demikian, dia begitu terluka. Betapa tidak, AYahku sebagai KK tertua dalam keluarga yang lebih dulu menikah biarpun hanya sebagai Nelayan, pernah menjadi tulang punggung keluarga, pernah ikut merawat dan membesarkan Bapade Marlon. Ibuku tahu betul itu rn hati seorang ibu mana yang tak sakit hati dan kecewa. Usia pun ikut andil membuat ibuku sering sakit sakitan. Kadang aku mengirim surat, membesarkan hati ibu sesekali suratku dibalas, walau kadang bisa berbulan bulan baru kuterima karena transportasi yang begitu susah.

Akhirnya Aku tamat SMA ..,
walau dengan susah payah dan dengan bantuan sekedarnya dari KK KK sesama Komplek Gubuk 🙂
ada beberapa pondok yang berjejer di situ, kami namakan komplek wisma Kandera. walaupun cuma
gubuk gubuk kecil, kami biasa menyebutnya Wisma, sekedar untuk menghibur hati kami. dan Kandera adalah nama yang kami pilihkan untuk menggambarkan bahwa hidup kami penuh derita dan kekurangan namun kami tetap tegar demi merengkuh pendidikan yang baik. Kami selalu percaya, pendidikan yang baik adalah salah satu faktor yang dapat ikut membantu kami keluar dari kemiskinan dan kesederhanaan.

Aku kini adalah seorag Mahasiwa universitas negeri paling tertua di Kota ini yang kebetulan tidak terlalu jauh dari SMAku dan Wisma Kandera kami. Waw… kadang aku tak percaya bisa menjadi Mahasiswa, terselip rasa bangga tak terkira, namun cemas pun kadang melintas, kadang banyak tanya hadir di benak ku, mampukan aku menyelesaikan ? bagaimana membayar uang Semester ?
Tapi semua tetap ku jalani, sesuai pesan ayahku, bahwa anak laki lkai tidak boleh lemah, hidup itu perjuangan.

Kasih Tuhan yang melimpah dalam hidupku, talenta yang diberikan padaku, membuat aku menjadi Mahasiswa yang pandai, kadang aku memberi kursus kepada adik adik SMP dan SMA, dengan mendapat bayaran yang ala kadarnya. Sedikit darah Seni yang mengalir dari kakek ku juga membuat aku mahir memainkan alat musik, dan menggubah banyak lagu. Kadang ada rasa bangga ketika di Toko dan dipasar atau di rumah rumah penduduk yang kulewati, lagu ciptaan ku terdengar indah mengalun, aku tersenyum dalam bangga tak terkira, tak pernah terpikirkan bagiku tentang Hak cipta atau apalah namanya Laguku bisa dinyanyikan orang lain saja, aku sudah ikut bangga. Walau kadang aku menggerutu dalam hati, betapa para pencuri laguku sangat tidak menghargai hasil karyaku. Entah bagaimana lagu laguku bisa populer di mata masyarakat, kadang tertulis di kaset kaset, pencipta NN (No Name). sebuah istilah bagi lagu lagu yang tak dikenal penciptanya.
Tak banyak orang yang tau, lagu lagu itu kugubah dari dalam pondok sederhana ku ini, di lereng gunung nan hijau dan damai dalam kesederhanaan. Hanya beberapa KK dan teman yang tau, karena pernah melihat aku menulis dan menyanyikannya.

Sementara yang kudengar Bapade Marlon semakin sukses, dan sudah
membeli mobil, walau dia tak pernah lagi menjengukku, aku bahagia mendengarnya, biar bagemanapun, dia adalah Bapade kandungku. Mungkin sikapnya begitu karena Mamade tidak tulus menerima kehadiranku.

Di masa perkuliahan itulah pula aku berkenalan dengan seorang teman sekampus, gadis manis dan cantik di mataku Entah kenapa dia bisa suka dan jatuh cinta padaku, aku merasa tak perlu mencari tahu jawaban itu, yang terpenting adalah aku begitu menyayanginya dan dia juga menyayangi ku, tanpa rasa malu dan gengsi, ia sering datang ke wisma kandera, membawa sedikit keperluan ku, sungguh aku bahagia tak terkira. Tuhan itu Adil, dalam kekurangan ku, Dia memberikan aku seorang Gadis Manis yang punya banyak kelebihan.
Dari keluarga yang boleh dibilang cukupan. Merry.. itulah namanya, gadis manis berdarah campuran beberapa suku di papua. Kami menjalani hubungan cinta ini dengan baik, penuh kehangatan dan ketulusan.

Sore ini di depan pondok wisma kandera, kami duduk berdua saling memanja, kumainkan gitarku.
Merry menyanyikan lagu lagu ciptaanku. Oh alangkah indahnya hidup ini. sejenak kulupakan beban dan kesulitan hidupku. Alunan suaranya yang menyanyikan lagu laguku dengan penuh rasa, mungkin karena cintanya , sehingga kalimat demi kalimat terdengar begitu menggetarkan hatiku. Dalam Hatiku aku berdoa, semoga aku bisa lulus Kuliah, mencari pekerjaan, dan diberikan modal yang cukup untuk melamar Merry, kekasih hatiku.

Merr..
Aku tak akan membawa mu tinggal dalam Wisma Kandera ini,
tak akan kubaringkan tubuhmu yang indah di atas tempat tidur kayuku yang usang, kau tak pantas menerim ini semua. Ketulusan dan cintamu pantas kubayar lebih. Aku akan mencari tempat tinggal yang layak buat engkau dan anak anak kita yang akan lahir suatu saat nanti. Mereka tidak akan mengalami hidup seperti diriku ini.
Aku akan merencakanakan semua dengan baik.
Semoga Tuhan diatas sana merestui hubungan cinta ini
dan memberikan cinta yang terus menyala di hati mu Merry,
sehingga engkau tidak berpaling dariku,
biarkan lah aku bahagia, jangan…….
pisahkan kami…
ku tak akan mampu bila itu sampai terjadi

begitulah seribu sumpah,janji, tekad dan harapan dalam hatiku.
Akankah kurengkuh semua asaku ? Tuhan .. hanyalah Dikau yang tau.
————————————————

Wisma Kandera, 11 Oktober 2007, Julio Sandia
ini adalah cerita rekaan semata, jika ada kesamaan nama tokoh,waktu dan tempat,mohon maaf sebesar besarnya.
Foto pada cerpen adalah gambar ilustrasi.