Tony, Kasih Yang Terpendam”

Tony, Kasih Yang Terpendam”
(Cerpen – Papua)

Sebua SMA Di Kota Sentani tahun 2001, ketika suhu politik Papua begitu menghangat-hangatnya, maklum baru setahun sebelumnya Gusdur (Presiden RI kala itu) membolehkan Bendera Bintang Kejora berkibar di Tanah Papua, belakangan Ibu Mega yang mengganti Gusdur sebagai Presiden RI melarang bendera itu berkibar sebagai imbalannya diberikan “Otonomi khusus Papua”.

Otsus kemudian jadi buah bibir banyak orang sebagai peluang bagi putra daerah untuk menjadi tuan di negri sendir,i bahkan diberbagai bidang pekerjaan, kegembiraan ini yang turut dirasakan para siswa kelas III SMA di Kota Sentani, betapa tidak tahun sebelumnya tamatan 2000 bisa dengan mudah masuk menjadi Bintara Polri, semangat inipula yang membakar Tony yang kini duduk dibangku kelas III jurusan IPS untuk usai tamat nanti berniat melamar untuk menjadi calon siswa Bintara Polri di Polda Papua.

Tony, ketika itu seorang anak muda Papua tampan yang cukup gagah, sebab bawahanya yang dari keluarga disiplin, ia bukan pria perokok, tidak juga akrab dengan Miras membuatnya menjadi lelaki cukup ganteng yang mempesona aura pria-nya, namun sayang, Ia tidak terlalu populer dibanding siswa ganteng lainnya di kelas, karena pembawannya yang satu itu, kurang gaul, pendiam, murung bertemu orang atau teman siapapun bicara seperlunya saja alias to the point, membuatnya kurang dikenal.

Namun, Tony termasuk siswa yang cukup cerdas diatas rata-rata, rangking raportnya biasa rangking IV atau V dalam tiap caturwulan, dia punya salah satu hobby khas, menyanyi juga bermain guitar.

Jumat pagi menjelang siang itu, …!! Ketika siswa kelas III baru usai ujian Ebtanas dan hanya jalan-jalan masuk sekolah sambil tunggu hasil ujian yang akan dimumumkan pihak sekolah beberapa minggu kedepan.

Tony,..!! ko ada bikin apa..kita latihan lagu,..?? sapa ida, teman kelas Tony.
“Trada.. ida.., tapi sa tra bawa gitar ..!!”. Jawab tony, lantas. (karena tony, juga punya gitar tua yang biasa dibawah ke sekolah)

“Itu, ada Ona pu gitar .!
jena ada pinjam kutik..kutik gitar tapi dia tra tau main gitar” . balas ida.
(Jena adalah siswa kelas I SMA yang akrab dengan Ida, lantaran famili dalam keluarga mereka, tetapi bagi Tony, Jena si gadis berdarah campuran Serui Fakfak ini begitu special, Tony di dalam diam begitu mengagumi Jena, si adik kelas yang kerap datang mengunjungi Ida)

Oh.. yoo..ii . tempo. Tapi..Ona..!, Yansen..? Tanya Tony.
Kalau Ona, dia yang bawa gitar tu, dari tadi su siap, latihan lagu, ..Yansen nanti paling sebentar Ona bilang dia. Jawab Ida.
“Jenaa..! mari,..”

Ida memamanggil Jena karena, gitar sementara di Jena, Jena datang dan dikenalkan Ida pada Tony.
“Tony,. Ini Jena, sa pu ade famili, anak kelas 1…:”, sambil berjabat-tanga dengan Jena, Tony pura-pura tra kenal sambil salaman, tapi dalam hati mulai bergolak, Tony sendiri tra tau pacaran tapi gadis ini seperti mengajarinya sebuah arti menyukai lawan jenis.

Siang itu mereka bersiap latihan lagu yang disiapkan Ida, karena biasanya nanti setiap hari Sabtu siang seluruh siswa dari kelas I – III kususnya Kristen akan dikumpulkan jadi satu untuk ibadah bersama di aula, jadi kalau hari jumat atau ada waktu kosong pelajaran di kelas, sering siswa-siswi yang suka mengisi vocal group akan latihan lagu yang nanti dibawakan dalam ibadah sabtu.

Selang beberapa menit kemudian, Ona masuk ke ruang kelas.. Jena lantas memberitahukan..

K,’ Ona kita latihan lagu.. tu., sa suda kasi gitar sama ka tony. dan k’ Ida ada tunggu lagi.
“ohh. Ayoo.. Jen”,
ajak ona sambil berjalan bersama Jena menuju Ida dan Tony. Ona adalah teman sekelas, Tony.

Ida.. mana lagu yang ko tulis ?? Tanya Ona,
Siippp.. ada nee..!!! (balas ida), Ona baru yansen ? Tanya Ida.
Lantaran Yansen adalah pacar Ida tapi hubungan mereka putus sambung, Yansen juga biasa bergabung latihan lagu dan bernyanyi bersama, dia guitaris cadangan kalau Tony tidak ada.

“Jiiihh..tadi dia ada diluar, terserah kalau dia mo gabung..”. Balas Ona, singkat.
“Yooii. Suda” Jawab Ida.

Tony, Ona, Ida dan Jena melanjutkan latihan lagu tanpa Yansen, Tony sendiri dalam latihan punya hati berbunga-bunga pasalnya kehadiran Jena, pokoknya trada yang lain, Jena andai saja sa deng ko pacaran.
Sepanjang latihan lagu, Tony penuh dengan lamunan terhadap Jena, Jena ko ada pikir sa ka tidak ee..? pikir Tony dalam hati sambil mengiringi dalam alunan melodi merdu pada tiap bait lagu yang dinyanyikan dengan serius oleh Ida, Ona dan Jena si pujaan hati.

Tiba..tiba..
Ehh.. ko tra konsentrasi skali, ko main di nada salah, kitong menyanyi jadi kacau Ton..!!, .
.Ida mengagetkan Tony.

Tony,pun kaget bukan main dari lamunan ..sambil lanjut menyesuaikan petikan senar gitar ikuti lagu.

(aduhh untung dong tra tau, ini gara..gara Jena saja ne, jawab Tony dalam hati sambil senyum-senyum), Ona dan Ida tidak sadar, kalau latihan lagu kali ini dengan kehadiran bintang tamu Jena membuat Tony tampil tra seperti biasa. Tony memang su lama ee. naksir Jena, sewaktu MOS (Masa orientasi siswa baru) di SMA, tapi Tony yang anak pendiam, kurang bergaul kadang malu untuk tampil dimuka membuat impian dan benih..benih rasa terhadap Jena hanya tersimpan di dalam hati. Tetapi siang ini dia begitu dekat dimuka. Hanya hitungan menit, sebentar selesai latihan lagu Tony tahan sebentar si dia dan utarakan isi hati secara langsung saja kan selesai… tapi bagi Tony ini pekerjaan berat seperti angkat semen tonasa 2 sak di bahu. Atau minta bantuan Ona, kalu masih trabisa Ida saja yang paling dekat dengan Jena karna sebagai famili.. itupun tra bisa juga bagi Tony si anak pendiam ini.

Siang itu, latihan lagupun berakhir tepat pukul 12 siang..
“Ayo.. kitong pulang sudah.. ini su siang ..” ajak ona kepada Tony, Ida dan Jena.
“Ayo, suda.”.jawab Ida dan Jena hampir bersamaan
Biasanya dihari jumat, jam 11 siang kelas pada umumnya mulai sepi dan lebih cepat jam pulangnya.

Sampe jumpa besok, balas Tony..!!
“Yombeks… Ton .. besok ko yang main gitar sudah, Yansen kalau besok ada sesuaikan saja..” jawab Ida.sambil merapikan tas dan gitar yang dikembalikan Tony.

Siang itu Tony pulang dengan hati ceriah tapi penuh gunda gulana, masa untuk minta Jena sabar sebentar saja dan mengungkap isi hati saja tidak bisa tu..
Sambil berjalan bersama ke pagar luar sekolah, sesekali Tony melempar pandangan ke arah Jena dan dibalas dengan pancaran senyum manis yang datar.
Tony seakan hancur, masa tra mampu bilang..(sa sayang ko) tu. ###

Berpisah siang itu dan menunggu untuk Sabtu besok bertemu lagi di ibadah bersama antar kelas bagi Tony seperti menunggu 1 abad lamanya. Tony pulang dengan hati penuh kacau balau, ada rasa menyesal.. ada rasa marah kepada diri sendiri.. kenapa sa terlahir sebagai anak pendiam yang kurang gaul ka.

****
Esok harinya, Sabtu. Pukul 2 siang. Lonceng sekolah berbunyi tanda usai jam belajar seluruh siswa kelas 1 – 3 yang Kristen dengan sendirinya berkumpul diruang aula sekolah untuk ibadah.

“K’Ona tadi pagi k’ida ada sakit makanya tidak masuk…” kata Jena, memberitahu.
“Oh.iyo, ka Jena,.. sayang. Sebentar siang pulang Sekolah, Jena temani kitong ke dia ee..?
Ida , hanya menganggukan kepala, tanda setuju.

Ona memberikan Gitar kepada Tony, sambila berkata.
“Tony, kita tiga menyanyi Ida tra gabung, karna sakit..”
“”..Ohh..Iyo, tra papa..” sahut Tony sambil mengambil gitar, akan tetapi sorot mata Tony seperti tidak bosan-bosan untuk menatap Jena si gadis manis, senyum memukau selalu terpancar tak putus-putus dari gadis ini.

Ade.. ini de suda pu pacar ka blum ee..?? kenapa sa pu hati dari kemarin kacau skali sama dia..? dia tahu ka tidak sa naksir skali sama dia ?? pertanyaan yang memantik belahan jiwa Tony ketika bersiap untuk ikut ibadah sabtu siang ini. Semua sudah mulai siap untuk ibadah, Ona sudah kedepan dan memberikan informasi pada MC mengenai vocal group dari mereka yang sebentar akan mengisi dalam ibadah, “Trio IPS” begitu nama group mereka yang disampaikan Ona pada MC, meskipun si Jena masih kelas I SMA tapi bagi Ona itu tra penting dia masuk sebagai “Trio IPS untuk bawa vocal sebentar”.

Sewaktu ibadah akan berjalan, Tony si pemalu duduk dengan teman-teman lelaki, begitu juga Jena yang duduk bersama teman-teman siswa kelas I.

Sementara ibadah berjalan, Ona tiba-tiba merasa tidak enak badan, keringat dingin dan mual. Ona akhirnya tidak ikut ibadah dan sudah tidak sanggup untuk pamit ke Tony dan Jena lalu pulang tanpa memberitahu.

Akhirnya tiba pada giliran, Trio IPS mendapati kesempatan pertama dalam ibadah diundang untuk membawa vocal group melalui lagu yang telah disiapkan.

Pembawa liturgy memanggil :
kami memberi kesempatan kepada “Trio IPS” untuk membawakan lagu yang telah disiapkan. (Trio IPS mendapati giliran pembuka)

Mendengar panggilan pembawa liturgi , Tony si pemalu duduk diam menunggu dan berharap Ona dan Jena lebih dulu maju, tetapi Ona rupanya tidak muncul, Jena kemudian mengambil inisiatif maju ke depan dan berharap Ona segera menyusul, tetapi tidak juga. Tony pun demikian mulai bertanya tanya dalam hati, kenapa Jena saja, mana Ona ?? aduh semua mata mulai lihat saya, pegang gitar lagi.

Tony memegang gitar sambil maju ke depan dengan perasaan yang malu, gugup, stres trada Ona, grogi untuk pertama kalinya mendampingi Jena dimuka umum. Ini keadaan akan bagaimana nanti, Ida, Ona, Yansen kalian siang ini bunuh saya..pikir Tony dalam hati sambil bersiap-siap gitar untuk berdua bernyanyi bersama si Jena.

Jena, Nampak biasa saja, tetapi Tony yang terlihat kaku spontan membuat Jena juga terpengaruh untuk gugup dan kaku. Ternyata benar..ramalan Tony, keadaan akan kacau. lagu yang dilatihan lain, Tony bermain gitar dan menyanyikan lagu lain, Jena pun malu-malu ikuti saja Tony menyanyikan lagu yang belum pernah Jena sendiri tahu. Semua mata siswa dan guru yang hadir dalam ibadah mengangah dua insan didepan sambil senyum-senyum. Tony pun buru-buru mengakhiri nyanyian bait ref yang seharusnya dinyanyikan 2 kali tetapi cuma sekali saja oleh Tony dan selesai.

Tony benar-benar membuat Jena juga malu hancur dimuka.. tapi lantaran kaka kelas, Jena diam dengan senyum manisnya sambil pikir apa yang barusan terjadi bersama Tony.

Usai ibadah, sewaktu hendak pulang. Jena menghampiri Tony dan memanggil.
“K’Tony, K’ Ton….!tadi itu.!!!!.” tony balik dengan rasa gugup terhadap lawan jenis yang dikaguminya ini.

Jena belum bicara, Tony su hancur senyum-senyum tapi tra ketawa bokar ingat tadi bawa vocal di depan … tetapi Tony cukup pandai dan segera berpikir, ini kesempatan untuk ungkap isi hati sayang pada Jena. Aduh tapi bagaimana ee.. ? sa bilang apa duluan ee ke dia ?? tanya Tony dalam hati.

Eeehh…mmmm… addeee… ahh.

Tony kembali lagi dengan gugupnya diam berhadapan dengan si manis Jena, sementara Jena layaknya gadis Polos sehingga belum pandai baca situasi Tony yang takaruan itu.

Kenapa kaka,? Tanya Jena, ingin tahu.

Ahh.. trada Adee.. baru Ona tadi..??
(tony tra sanggup dan ubah haluan pertanyaan untuk menjaga sang ade tersanyang tetap ada didekatnya).

“Oh.iyo, k’Tony baru sa juga tadi cari di kaka dong pu teman-teman III IPS tapi tidak ada k Ona..” balas Jena.

“Sudah Adee.. ayo kita antar gitar ke rumah Ona skaligus cek dia di rumah ka ..” ajak Tony pada Jena pujaan hatinya. ..
“Oke.. Kk trus kita masing-masing pulang. ..” Balas Jena.

Hheemmm..!!! barangkali ini akan jadi kesempatan lagi. Sa bisa bicara secara langsung sa pu isi hati sama Jena.. aduh tapi bagiamana ee.. sa gugup skali, gumam Tony dalam hati ketika berjalan bersama Jena ke rumah Ona yang cuman berjarak sekitar 100 meter dari sekolah.

Beberapa menit kemudian, di rumah Ona. Tony dan Jena berpapasan dengan Ayah Ona yang juga guru Matematika di sekolah.

Selamat siang Bapak..!!, sapa Tony.
“Selamat siang..Nak, oh. Perlu Ona ? dia tadi pulang sakit ada baring-baring di kamar..” Jawab Ayah Ona.
“..Ooohh.. ka, Ona Sakit ka ??..Jena bertanya.
“Iya, nak… mari masuk saja,. Bapak ada keluar sebentar..”, Ayah Jena mempersilahkan Tony dan Jena masuk ke dalam rumah.

Tony dan Jena masuk ke dalam rumah dan Ibu Ona mempersilahkan Tony dan Jena menuju kamar Ona. Di kamar, Ona yang sedang tidur Nampak pucat Karen sakit. Ibu Ona hanya masuk dan memberitahukan kalau Ona ada sakit lambung yang kambuh lagi, Ona akan diantar ke dokter praktek sore nanti. Beberapa menit kemudian Tony dan Jena setelah mengembalikan gitar milik lalu, pamit Pulang dari rumah Ona.

Diluar sewaktu Jena akan ikut Ojek untuk pulang, Tony kembali lagi dengan aksinya mencegat jena, kali ini agak berani.
Jenn.. sa ada perlu ko..?
(tony su tra mau panggil ade.. mungkin panggil adee akan bikin Tony penakut dan gugup).
Apa tu kaka..? Jena bertanya
“Heemm… !! besok sudah,..”
Tony rasa Iba sudah siang lagi, baru ojek pas kebetulan ada. Meski demikian, Tony amat kecewa setelah Jena naik ojek dan melambaikan tangan pada Tony diikuti pesona senyum manis. Masa sudah berkali-kali sa tra sanggup utarakan sa pu isi hati itu..Tony kecewa pada diri sendiri. Jena kayaknya belum punya pacar, sa tra pernah lihat ada laki-laki satu yang jalan deng dia, skrang kalo sa lama-lama begini baru ada yang masuk ungkap dong pu isi hati ke dia ..?? adoo.. Tony bertanya dalam hati sambil kawatir brat

Beberapa hari kemudian, Jena datang dan berdasarkan Saran Ida bahwa Tony hebat dan slalu mendapati Nilai bagus dalam bahasa inggris, akhirnya Ida jadi perantara untuk meminta bantuan Tony lihat soal bahasa Inggris tugas rumah Jena. Tony sebenarnya malas kalau itu dari Ida, tetapi begitu diketahui dari si pujaan hati Tony akhirnya bersedia membantu sepenuh hati. Tony akhirnya menemukan ide untuk mengatasi kesulitannya ungkap isi hati ke Jena. Yaitu selip surat di dalam buku Jena. Tony berpikiran bahwa buku toh pasti Jena sendiri yang akan buka dan biar dia lihat sendiri dan membaca suratnya.

Ok, baik. Nanti sa lihat Jenn.. yang mana..? Tanya Tony.
Yang ini kaka ..! Jena menjelaskan PRnya pada Tony.
“Nanti sa isikan jawaban skaligus.. Jen tunggu sebentar.” Kata Tony, sambil membawa buku PR milik Jena.
“Siap ..kaka..! makasih…” Jawab Jena yang polos.

Sekitar 30 menit kemudian, Tony yang cukup mahir bahasa Inggris sudah mengembalikan hasil pekerjaan bantuannya pada Jena. Sewaktu Jena trima buku dari Tony, Jena sempat melihat surat. Jena bilang Kaka..? Tony sudah buruh-buruh berlalu ke tempat lain. Jena lalu pergi ke kelasnya, Jena tidak terlalu pikirkan surat, Jena mulai melihat hasil kerjanya (tugas rumah) yang dibantu Tony sudah beres, Jena mulai merasa tenang, dan pulang ke rumah, karena tugas rumah akan dikumpul esok harinya.

Di kamar di rumah. tiba-tiba Jena teringat. Kalau tadi ada sepucuk kertas di dalam buku yang dikembalikan Tony. Jena mulai penasaran dan membaca.

Tony menulis!

“Ade.. Jena Yang Tersayang…”.
Maaf, saya menulis disurat ini, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintai dirimu, dan rindu untuk menjadi kekasih hati mu. Sudah lama saya mengenal kami sewaktu Masa Orientasi, saya senang lewat ida. Sa jadi dekat dengan kamu dan kini ungkapan hati ini saya tulis kepada mu seorang.

Dengan penuh kasih sayang, saya menunggu kamu membalas surat ini.

Salam sayang

Tonny..”

Usai membaca surat Tony, Jena yang polos dan belum pernah kenal dan alami jatuh cinta kaget, serba bingung dan merasa aneh untuk sesuatu yang baru.
Jena mulai membayangkan Tony. Dia pria pendiam, tidak perokok, juga miras.
ka ida pernah bilang dia termasuk siswa cerdas. Oh.iya, (jena teringat) PR bahasa inggris ku saja dia kerjakan dengan baik skali. Tapi sa harus bagaimana ? sa blom tahu pacaran. Pikir Jena dalam hatinya yang polos.

Hari demi hari Tony menanti jawaban Jena pujaan hatinya, hingga kini Tony mulai disibukan dengan aktifitas barunya yaitu mempersiapkan surat-surat untuk administrasi lamaran ke Polda Papua. Sebagai putra daerah asli Papua, sekalipun Ijasah belum keluar tetapi Tony hanya berbekal surat pengganti ijasah dapat memproses segala adminstrasi. Tony mulai sibuk foto copy dan lain sebagainya surat –surat, namun diwaktu-waktu kosong, Tony selalu membayangkan Jena.

Jena pun mengalami hal yang serupa, tidak lagi melihat Tony bersama Ida dan Ona di sekolah. Benih – benih rasa itupun mulai timbul di dalam lubuk hati Jena untuk mengenal arti rindu diam-diam kaka kelas yang mulai tidak kelihatan.

Jena-pun akhirnya menyiapkan surat balasan tetapi Tony dimana ? ketemu nanti dimana ? titip surat lewat siapa ?? Tanya Jena dalam hati. Sesekali waktu, Jena bertanya sepintas kepada ida untuk menghindari kecurigaan Ida bahwa Jena mulai jatuh hati pada Tony.

Ka’ida.. baru ka ida rencana kuliah ka ??.. Tanya jena pura-pura dalam pertanyaan permulaan.
Iya, rencana sih begitu jen..!!! jawab ida.
“Baru ka’Tony ..? ?” jena lanjut bertanya serius.
“Tony Di SPN/ Di Polda mungkin, itu sama-sama dengan Yansen dorang, kayaknya mulai test-peemriksaan ka..” Ida menjawab seadanya saja, karena tidak begitu tahu Tony, karena memang Tony tidak biasa berbagi cerita aktifitasnya ke teman-teman sekelas.

Jena, Nampak murung mendengar jawaban, Ida yang melihat keadaan Jena lantas bertanya.
Kenapa Jen..?
“Aahh.. tidak kaka ..” Jawab Jena sambil menyembunyikan rasa yang dialaminya.

Pada suatu kesempatan, Jena akhirnya setelah mendapati kabar dari Ida dan Ona bahwa Tony juga ikut test dan sudah masuk pada tahap pemeriksaan uji Psikologi bersama Yansen. Jena hari itu, hari sabtu melucur ke Jayapura dengan harapan jika ada kesempatan, Jena ingin bertemu langsung Tony dan membalas surat tony secara langsung.

Siang itu, calon siswa Bintara usai ujian psikologi tingkat daerah di SPN Jayapura, satu persatu keluar.. Jena menunggu dan menunggu, Tony tidak muncul batang hidungnya.

Tiba ..tiba..

“Hi…Adee..??” Yansen mengaggetkan Jena
Hemm… Kk.. aduh..sa kaget lagi. Jena terkejut.
Perlu sapa ade ? tinggal disini ka ? koq. sa blom pernah lihat ?? Yansen bertanya penuh selidik.
Trada kk..?? Jena spontan membalas.
baru.?? Yansen melanjutkan Tanya. Tetapi Jena potong dan balik bertanya.
Kaka sa boleh Tanya, ka ? baru da lihat, ka Tony ? ..
Hheemmm… sa curiga ni.. ? Yansen menjawab. Tapi dalam hati, sambil heran. Bisa tu, Tony si pendiam tu bikin ade ini datang.
“aah jang begitu .ka sa tnya serius.. “ balas Jena sambil malu-malu.
Tony menjawab dan Menjelaskan :
Sa juga cari dia ade, kita satu regu.. tapi.. dia tra kelihatan..sudah pemeriksaan kesehatan Tahap I dia lolos, tapi tadi ujian Psikologis de trada, de dapat panggil juga tu.

Setelah mendengar penjelasan yansen, Jena pulang dengan hampa, tidak menjumpai Tony dambaan hatinya, sebab Yansen memang tidak tahu juga kalau pada saat yang bersamaan Tony si pendiam sedang memasukan berkas persyaratan test UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri) di Uncen, akhirnya tony pada waktu yang bersamaan fokus ke Polda dan Uncen, tetapi akhirnya Tony korbankan urusan ke Polda dan masuk ikuti ujian tertulis di Uncen, Tony rupanya beruntung lolos seleksi jalur UMPTN dan diterima masuk sebagai mahasiswa diperguruan tinggi ternama di tanah Papua.

Sejak saat itu Tony dan Jena akhirnya benar-benar berpisah di dalam kasih yang terpendam, cinta begitu kuat saat itu, akan tetapi Tony melihat Jena disisi kejahuan yang dipikirkan mungkin Jena tidak menerima cintanya, sebaliknya Jena pun melihat Tony disisi yang sama bahwa kaka Tony mungkin sudah menjadi anggota Polri dan melupakan dirinya, Jena tidak pernah tahu kalau Tony sudah menjadi mahasiswa di Universitas Cenderawasih dan masih selalu mengenang dan membayangkan dirinya.

Cinta memang tak selamanya harus menyatu.. “Tony Kasih Yang Terpendam”.

Disuatu senja, Kota Bintuni awal Maret, 2018

Karya cipta : Moneste.
Sumber Foto : Ilustrasi, diambil dari afro-american female & male collage university US.FB_IMG_1531414799960

Oleh. Monster mon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s