TELAGA “CYRAYAHI” YANG TERSEMBUNYI RATUSAN TAHUN DI GUGUSAN PUNCAK GUNUNG CYCLOOPS DITEMUKAN

Sejumlah pendaki, Rabu (27/12) siang menemukan telaga yang ratusan tahun jadi legenda di masyarakat Kabupaten Jayapura kuhususnya Sentani. Bagaimana tidak cerita soal telaga ini dari masa kemasa dan diceritakan turun-temurun soal telaga di Gunung Robhonsolo Cycloops.

Para pecinta alam ini telah memburu dan mencari telaga ini hampir 4 tahun lamanya dan telaga ini hanya bisa terlihat di Google Map. Cerita legenda telaga berwarna biru di atas gunung Cycloop ternyata benar ada dan bukan cerita dongeng. Pemilik akun facebook bernama Ners Arie Kayoi yang mempublis penemuan telaga legenda itu pada tanggal 27 Desember sekitar pukul 21.09 WIT.

Dalam akun facebooknya ia menuliskan; Puji Syukur kepada Allah TUHAN Yang Maha Besar karena telah menyertai Tim Pencinta Alam Pendaki Gunung Cycloop Sentani telah menemukan sebuah Telaga Biru di Puncak Gunung Cycloop yang mereka menamakan “TELAGA BIRU CYRAYAHI di Gugusan Robhonsolo Cycloops Sentani pada Hari Rabu Petang tanggal 27 Desember 2017.

Setelah 4 tahun berturut-turut mereka “memburu” dan mengincar keberadaan sebuah danau (telaga) yang terdeteksi Googlee Map di balik Gugusan Pegunungan Robhonsolo (Cycloops) Sentani, dan belum diketahui khalayak umum di Sentani bahkan Jayapura, akhirnya Rabu petang ini tanggal 27 Desember 2017, kelompok pemuda pendaki gunung “penasaran” yg exited menjelajahi pegunungan yang diberi nama “CYCLOOPS RALIBHU YABHAHEI HIKERS” ini yg umumnya tergabung dalam PATHFINDERS CLUB Pimpinan MARSHAL SUEBU, BERHASIL menemukan target yang telah diburu selama 4 tahun belakangan ini. TUHAN Maha Kuasa dan Maha Dasyat… Halleluyah.. Amin…!!!!

Telaga di balik pegunungan Cycloops ini diberi nama “TELAGA CYRAYAHI”. Sesuai akronim nama tim penemu ” Cycloops Ralibhu Yabhaheai Hikers”.(Titik koordinat GPS lokasi ” Telaga Cyrayahi” ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab publikasi tim).

Ners Arie Kayoi pun tak lupa meminta dan menghimbau Kepada Yth. : Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Para Tokoh Adat Ondoafi dan Ondofolo serta Masyarakat Sentani agar merencanakan suatu penyambutan dan memberikan perghargaan kepada Para Pendaki Pencinta Alam Gugusan Robhonsolo Cycloops tergabung dalam PATHFINDERS CLUB Pimpnan MARSHAL SUEBU. Selamat Natal 2017 dan Selamat Tahun Baru 2018…. TUHAN memberkati…!!! [Roberth]

1. Kepemilikan tanah ulayat lokasi “Telaga CYRAYAHI” berbeda dgn tujuan ekpedisi Tim Pecinta Alam CYRAYAHI yaitu “Hanya utk menikmati alam indah ciptaan Tuhan”, krna itu tdk perlu utk dipertentangkan. Tanah akan tetap mjdi milik adat.

2. Ada beberapa keuntungan ekpedisi CYRAYAHI:
a. Penemuan ini hanya membuka mata kita tentang kekayaan alam yg belum bnyak diketahui khalayak umum, termasuk pihak pemerintah (KSDA Papua).
b. Bila area ini dikembangkan sbg aset agro wisata ke depan, akan berdampak positif bagi ekonomi masyarakat sekitar, ini semua bermula dari eksplorasi Tim Pendaki yg membuka mata kita, termasuk pemerintah.

3. Nomenklatur danau tdk perlu dipermasalahkan skrg, krn kita akan “BERJALAN MUNDUR”. Mengapa?, saling klaim pihak adat pasti akan ada, Ormu, Ohei, Netar, Ifar Besar, dll. Kita akan berputar lama di “padang gurun Aran” dalam lingkaran masalah yg tdk penting, kapan kita bsa dapat namanya?, Jawabnya: setelah klaim pihak adat yg menang ditentukan, krn dari nama telaga/tanah dapat diketahui kampung mana yg memilikinya, Kapan kita bisa dapat nama sbnarnya? Walahualam….????

Kita belajar dri pengalaman,
a. ” Danau LOVE”, Apa benar nama danau di Emfote itu namanya bgtu menurut adat? Tidak. Ada namanya, tidak pernah dipermasalahkan, krn nama DANAU LOVE lebih cepat dipopulerkan, tanpa m’ganggu kepemilikan hak ulayat.
Begitu pun “Telaga CYRAYAHI”.
b. ” Gunung TELETUBBIES”, sampai skrg nama ulayat adatnya tdk dipertentangkan, krn sama skli tdk m’ganggu otoritas adat, alamnya tetap mjdi t4 hunting view danau yg bagus bagi pengunjung.
Nama “Telaga CYRAYAHI” pun akan sperti bgtu.

Jadi… Nomenklatur “Telaga CYRAYAHI” tdk perlu dan sangat sangat tdk perlu utk dipertentangkan. Mari kitong sepakat pake nama ini dulu, “Telaga CYRAYAHI”.

* Terimakasih Bapak Bupati MA yg sudah sangat tanggap dgn fenomena yg lagi viral.

* Terimakasih juga kpd pihak KSDA Kab Jpr dan KSDA Papua yg mulai “membuka mata” utk potensi kekayaan alam di papua helemfoi.
Onomi-honomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s