TUNGGU SA PULANG YAKOMINA

#CerpenPapua
Semoga berkenan

TUNGGU SA PULANG YAKOMINA
————-
Suatu siang yg cerah..matahari pica di atas kepala…namun angin yg bertiup dan suhu udara berkisar 10 derajat celcius.
Memasuki gerbang nan indah, hilir mudik manusia berbagai macam ras.
Bangga rasanya melihat keragaman ini, bangga rasanya ikut memberi warna dunia ini sebagai kulit hitam dan rambut keriting.
Berbaris dengan tertib menuju gate masing-masing, sambil menungu giliran, tatapanku berkelana menikmati aneka rupa keindahan mahluk ciptaan Tuhan, lalu terpaku pada seorang dara jelita berkacata mata hitam, seperti tra asing lagi. Ditengah aneka rupa, sang dara nampak memancarkan aura keanggunan yg khas, ya keanggunan yg su tra asing lagi, keanggunan wanita melanesia.
Sa pu tatapan mata penuh selidik, de siapa ee…. enggo ka, firum ka, insos ka…ataukah kembang dari baliem….

Ketika antrian semakin dekat ke gate yg bersebelahan sa su tra tahan lagi. Jjauh dari negeri penuh harapan, dahaga akan indahnya aroma cenderawasih begitu merasuki sukma.

Ade dari Papua ka ?
Dia menatap dgn penuh tanya
Ade dari papua ?
De balik jawab…sorry ?
Oh sa tersadar de tra mengerti sa pu bahasa
U came from west papua ?
Oh….no ujarnya sambil melemparkan senyum pu manis apa bilang…seperti suster yola yg di lagu lagu yospan sudah.
“Well..i’m Abner from Jayapura, West Papua” jawabku
“I’m laisa meo, u can call me laisa, i’m from wewak, png. Not so far from u, right ?”.

Oh……perem wewak PNG, sungguh..sa kira perem komin satu, gumamku dalam hati.
Mungkin karna kedekatan darah dan suku serta ras, tong dua langsung akrab.
Dia sempat melontarkan sebuah kalimat, sebelum masuk ke gate lain dan tong dua berpisah jalan….
Why must we have a different colour ? sambil menunjukkan pasportnya dgn senyum yg serius.
Itulah pertemuan pertama dan terakhir., hingga kini masih terkenang senyumannya yg tra asing lagi. Senyum khas wanita melanesia. Senyum yang teduh sampe di dalam kalbu, senyum yang kurasakan dari ibuku dan kekasih ku yakomina, wanita wanita Melanesa di Papua sana yang dalam kebersahajaannya telah menorehkan nilai serta sukses yang kuraih, yang beberapa hari lagi jumpa, dan kutumpahkan segala rasa yg begitu menggebu.
Masih terngiang de pu kalimat terakhir…kenapa tong dua pu pasport harus berbeda warna ?
——-
Brisbane, September 2013, di lorong kehidupan, Julio Sandia.
ini adalah cerita fiktif belaka, bila ada kesamaan nama dan peristiwa, mohon maaf. Gambar adalah ilustrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s