Persipura

DENGAR BARENG (Debar) Sebuah istilah yang tidak seterkenal dan sepopuler saudaranya Nonton Bareng (nobar), namun ini adalah sebuah realita yang kami hadapi, jangankankan ketika tidak ada siaran langsung di televisi, ketika ada siaran langsung televisi pun, untuk daerah daerah tertentu yang jauh di pesisir terpencil dan pedalaman Papua yang jauh darisiaran televisi, ritual dengar bareng menjadi sesuatu yang mengasikkan dan cukup membuat berdebar debar. Ketika menjelang laga PERSIPURA di mandala, masyarakat sudah berkumpul di balai kampung, duduk dengan tertibnya bahkan menggunakan kaos Persipura. Tentu ini sebuah pemandangan yang sangat mengharukan bagi saya yang pernah mengalaminya di sebuah kampung terpencil di Papua. Ketiadaan akses televisi membuat ritual Dengar bareng menjadi penting dan juga menjadi ajang kami berkumpul. Bahkan adrenalin kamipun terpacu mengikuti setiap ulasan pandangan mata di radio, kami pun berteriak, sedih bahkan bersorak kegiarangan. Bahkan tidak lupa kami pun juga melakukan pawai kecil kecilan keliling kampung dengan berjalan kaki mengibarkan bendera Persipura, sambil bermain ukulele, sluing tambur dan tifa. Menarik sekali kala itu.Siapa yang tau kami, siapa yang melihat kami, namun kami bangga karna Persipura mewakili kami sampe ke penjuru negeri, ke pelosok buana. Ya dengar bareng menjadi sangat berharga ketika televisi televisi yang mengkalim dirinya televisi nasional (padahal sebenarnya lokal, cuma kebetulan pusatnya di jakarta) tdk mampu menjangkau kampung kampung kami. Sungguh indah kala itu (bahkan hingga kini masih ada daerah yang mengalaminya). Di situlah kehadiran radio sangat berjasa, dan RRI Nusantara V name up (nama naik). menjelang laga, lagu Persipura dari Black Brotehr berkumandang, ohhh bukan main membuncah rasa di dada, tong penggayu perahu cepat cepat sandar di pasir pasir. Setelah laga usai, ketika kemenangan diperoleh Persipura, tak lupa kami pawai sekali lagi keliling kampung (dengan berjalan kaki tentunya). ketika Persipura kalah kami tertunduk lesu, berkumpul kembali di pinggir pantai, bakar bakar ikan sambil mendiskusikannya seolah olah kami menyaksikan laga lewat layar kaca, padahal kami hanya mendengar. (agak lucu juga ee) Tapi itulah kenyataan hidup ini, dan terimakasih buat RRI Jayapura, ketika malam malam sunyi baru RRI tembak lagu lagu tu..tatusuk di dada sungguh Ya Dengar Bareng, adalah rutual kami sejak dulu dan masih berlangsung hingga sekarang. Sungguh beruntung kawan kawan yang bisa menonton televisi, atau setidaknya kini bisa online dan baca facebook, atau menonton live streaming, jangan bersungut sungut, ingatlah, masih banyak saudara saudara kita yang tidak sebruntung kita. Mengucap syukurlah dalam segala hal. ——– September 2017, di gerimis malam yang mengundang, Julio Sandia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s