Mama Rindu Robby

#CerpenPapua

  • MAMA RINDU ROBBY

    ——————————–

    Roby.. seorang pemuda yang hidup berkecukupan karena memang orang tuanya adalah orang kaya terpandang dan disegani di sebuah kota kecil. Menempuh kuliah jauh di tanah Jawa, bukanlah sesuatu yang berat bagi robi, setiap saat kalo ada libur, robi bisa pulang.walaupun hanya sehari. Dengan Materi yang cukup itu, tiket peswat pulang pergi Papua bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Hidup di tanah rantau, dengan fasilitas yang cukup, dikontrakkan rumah oleh orang tuanya, dibelikan sepeda motor keluaran terbaru. Tabungan yang cukup, kalau habis tinggal minta. Hidupnya enak dan dipenuhi oleh pesta pora anak muda.

Suatu ketika robi mendapat interlokal bahwa ibunya sakit keras dan ingin melihat anak semata wayangnya, robi yang begitu dikasihi yang dilahirkan dari rahimnya dengan peluh dan air mata, dengan perjuangan antara hidup dan mati. “bapa sa tra bisa pulang, tugas2 di kampus banyak skali”. itulah alasan yang berkali kali dilontarkan robi ketika ditelepon ayahnya “mama rindu skali, mama menangis trus ingin ketemu” “io ..tapi sa tra bisa tingalkan kuliah saat ini”, “mata kuliah padat skali” begitulah pembicaran antara bapak dan anak, pembicaraan yang berulang ulang. Robi tetap bersikukuh dgn alasan kuliah, walau sebenarnya robi bisa menuruti keinginan ayah ibunya. Bukan persoalan kuliah sebenarnya yang membuat dia menolak pulang, saat ini robi sedang bahagianya, mendekati dan menjalin hubungan dengan yunny teman kampusnya yang cantik, manja dan bersikap manis padanya. Begitu tergila gilanya Robby sampai segala keperluan dan keinginan yunny pasti dituruti mulai dari membelikan hp, baju baju bagus sampai membayar kuliah yunny. sebuah hubungan cinta yang sebenarnya masih harus dipertanyakan. “bang..aku pingin ganti hp “bosen ma hp yang ini” “ga ada fasilitas internetnya” “belikan ya bang..,” rengek Yunny dengan manja “ia sayang..nanti dibeliin” “sabar ya..duitnya belum ada”, jawab Robi “ga mauu…masa pelit sih bang “ga sayang lagi sama yuny ya”, balas Yunny sambil dengan gayanya yang manja menyandarkan kepalanya dengan rambut terurai di bahu Robby. Sikap yang selalu membuat Robby tak berdaya. “yunn..yuukk, mau ga..” “ih dasar nakal” “mumpung ga ada teman teman yang main ke sini yun” “ga mau” “ahhh..uhhh…mmmmhhh”

Siang itu, untuk yang kesekian kalinya, robby terjerat dalam suasana yang sepi yang hangat, dua insan yang sedang dibakar api asmara sampai sampai robi sama sekali tidak lagi memikirkan ibunya yang sedang sakit dan ingin bertemu putra yang dimatanya adalah belahan jiwa raganya “heelo yunn..gi ngapain?” “nanti malam ada kegiatan ga”? ucap Bambang di sebrang telepon “hello juga, ga ngapa ngapain, emangnya mau apa ?” tanya yunny “biasalah, kangen nih..” “dah seminggu ga ketemuan”, kata bambang “duhh..yang lagi kangen, ia yunny juga kangen “nanti malam yunny telpon deh”. janji yunny dengan manja dengan suara yang agak dipelankan, sementara di sampingnya, Robby sudah tertidur pulas, tenaganya terkuras habis di siang yang sepi itu. Jalinan cinta yang tak disadari robby sama sekali bahwa selama ini yunny menjalin kisah lain dengan Bambang, teman kampusnya.

 

Hari terus berlalu, robby begitu menikmati hidupnya dan hubungan cinta sepihak yang dilakoninya. beberapa kali interlokal dari rumahnya, dari ayah tercintanya, tidak digubris. Kalaupun menerima, pastilah jawabannya akan sama, bahwa perkuliahan sedang padat padatnya. Sekian lama menanti dalam kerinduan akan buah hatinya, akhirnya penyakit yang lama diderita ditambah dengan rasa kecewanya tak dapat melihat anak yang sangat dikasihinya semua itu makin membuat kondisi fisik ibunda robby makin menurun dan….. Pada suatu sore yang indah, dalam pelukan suami tercintanya, ibunda roby menghembuskan nafas terakhirnya dengan air mata masih membasahi pipinya “mama..bapa tau mama menderita”, “bapa minta maaf, bapa su berusaha panggil robby datang”, “bapa su kirim uang tiket pulang pergi” “tapi anak dia blum bisa datang”, “dong pu kuliah masih padat dan blum ada libur” itulah bisikan ayah robi di telinga isterinya, seorang laki laki gagah dan tampan yang sangat tegar walau dia sangat kecewa dengan sikap robby, namun dengan sikap arif dan bijaksana, dia masih mencoba memberi jawaban jawaban yang datar dan bijak, sampai pada sore itu, dikala isterinya harus berpulang ke Rumah Bapa yang Tenang “Robby..bapa mau bicara” terdengar nada ayah roby yang berat namun datar dan penuh wibawa di seberang telepon “ada apakah?” robby menjawab tanpa ekspresi apapun karena saat ini dia dan yunny akan pergi menonton sebuah konser musik dari artis yang sangat digandrungi yunny “robb..Tuhan itu punya kuasa” “dia pasti selalu mencintai kita dan tra akan meninggalkan kita” ayah robby mencoba membuka pembicaraan dengan anaknya, kalimat kalimat yang penuh ketenangan dan kehati-hatian ” io bapa..sa tau” “kenapa jadi..” jawab roby dengan agak tidak sabar, karena yunny sudah melirik gelisah ingin segera berangkat ke tempat konser. ” robby..bapa harap robby tetap kuat dan tabah”, “mama sudah dipanggil Tuhan”, ” ini tanta dan bapade dong ada kase mandi mama” “apa??” “bapa pu maksud mama meninggal??” tanya robby dengan nada meninggi. ” io anak..tetap tenang dan konsentrasi” “kalau ada waktu pulang ka, ikut liat mama dikuburkan”. “bapa su suruh bapade yonas transfer uang lagi”, “barangkali ko perlu di jalan” “io sudah…nanti sa cek pesawat sudah” “ok bapa..nanti sa telpon lagi sudah” “io anak..bapa harap ko jangan sedih”, “kendalikan diri” “tetap berdoa, mohon pimpinan Tuhan”. Ayah Robby mencoba memberi penguatan. “io bapa nanti sa telpon balik”, robby menutup telepon ketika kata kata ayahnya belum selesai, rupanya yunny sudah mulai kesal dan memaksa mereka segera ke tempat pertunjukan karena mereka hampir terlambat

 

“telpon dari siapa sih bang…cepat dikit napa..telat nih, yunny menujukkan kekesalannya. “ia..dari babe gw..biasalah..ortu”.. “slalu saja mengecek anaknya” Jawab robi dengan berbohong, karena dia tidak ingin susana hangat malam ini bersama yunny terganggu. Robby sudah membayangkan kemesraan yang bakal dialami malam ini, sehabis nonton tentunya mereka akan mampir ke sebuah supermarket yang buka 24 jam, membeli camilan dan makanan kecil, lalu kembali ke kontrakakan Robby dan mengakhiri malam dalam gairah membara. Berita tentang kematian ibunya sama sekali tidak mengusik rencananya bersama yunny “kaka ..robby belum kase kabar ka?” “kk perempuan pu badan su mulai rusak”, “tong harus segera makamkan kk perempuan” ujar Lince, adik kandung ayah robi,

 

mamade dari robby yang selalu setia menjaga kk iparnya semenjak sakit sampai akhirnya meninggal. dimata Lince, kk iparnya adalah wanita yang sangat dikaguminya, penampilannya yang bersahaja, cantik, cerdas, dan pandai mengurusi rumah tangga, dan yang sangat dikagumi lagi dari kk iparnya ini adalah kabaikan hatinya yang tanpa mengeluh sedikitpun, selalu menolong keluarga suaminya dengan sukacita dan penuh kesabaran. Tipikal seorang wanita papua yang begitu tulus dalam sebuah pernikahan, menganggap keluarga suaminya adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya. sungguh mulia “io lin..mungkin anak dia masih ada halangan jadi belum kase kabar” ujar sang kakak dengan nada penuh wibawa dan penuh pembelaan pada putranya, walau sesungguhnya dalam hatinya dia menangis dan kecewa, kenapa Putranya begitu tega dan berubah seperti ini. Disaat saat penting dimana dia membutuhkan kehadiran Putranya untuk ikut menguatkan dirinya, namun hal itu tak tercapai. dengan keputusan dan kesepakatan pihak keluarga maka pemakamaman akhirnya dilakukan tanpa kehadiran robby, putra terbaik di mata almarhumah.

 

Sementara itu kisah cinta sepihak penuh gairah antara robby dan yunny yang terjalin sekian lama akhirnya berakhir, yunny memutuskan hubungan mereka secara sepihak karena dia akan pindah ke kota lain, dengan alasan keluarga, padahal hanya akal akalan yunny untuk mengikuti Bambang, kekasih hatinya selama ini, yang pindah ke kota lain. Robby begitu putus asa, semua cinta dan apa yang dimilikinya telah diberikan, untuk menuruti kemauan yunny sang gadis idolanya dalam keputusasaan dan kekecewaan robby memutuskan untuk pulang ke Papua sekedar mencari ketenangan jiwa. kuliahnya pun ditinggalkan karena patah hati ditinggal gadis idolanya, yunny yang begitu mempesona dimatanya.

 

Ayah Robby yang mulai frustasi dan dilanda kesepian mendalam, sudah sakit sakitan, hanya bisa duduk di atas kursi roda karena terserang stroke yang hebat, Hanya bisa menggerakkan kepalanya menyambut kedatangan putra terkasihnya. dengan bantuan mamade lince dan bapade yonas, ayah robby memberikan sepucuk surat yang pernah dituliskan ibunya, sebuah surat yang belum selesai karena ditulis dalam keadaan sakit. Anakku obi..yang sangat mama sayangi, mama sangat rindu obi, mama su lama tahan mama pu sakit hanya karna tunggu obi. Hanya obi yang bikin mama kuat. Mama ingin membelai obi, memelu obi seperti dulu obi masih kecil. Obi harus tetap rajin kuliah. mama ingin liat obi Mama……

 

kalimat selanjutnya hanyalah coretan-coteran yang tidak terbaca mungkin karena kondisi fisik yang sangat menurun kala menulis surat itu. Senja ini , dalam keheningan sore yang indah, robby tertunduk lesu disamping makam ibunya, dengan air mata terurai, dia memeluk Tanda Salib diatas kuburan bertuliskan: Yohanna Martafina Julliana S. Lahir: 09-02-1960, Wafat:22-06-2007.

 

Robby tersadar.. dia telah mengabaikan ibunya, wanita yang begitu mengasihinya, hanya karena larut dalam hubungan cinta dengan yunny, larut dalam segala kenikmatan duniawi yang ditawarkan yunny, yang kini telah pergi dan hidup berbahagia dengan Bambang, kekasih pujaannya. Nilai nilai Logika, Etika dan Pola berpikir Bijak yang didapatkan selama ini, tentang arti penting seorang ibu, tentang derita dan perjuangan seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan, dalam kesabaran dan kasih tanpa pamrih seorang mama, semakin menikam jantungya .

 

Sayup sayup terdengar alunan lagu Doa Ibu yang dibawakan oleh penyanyi Nikita yang diputar oleh beberapa orang di sebrang sana, yang sedang membersihkan kuburan keluarga. Air mata semakin deras membanjiri bajunya, tanpa sanggup lagi berkata, roby tersandar lesu di samping makam ibunya, menangis dan menangis sampai kering air matanya. Dalam hatinya Robby ingin sekali sang waktu bergerak mundur, agar dia punya kesempatan untuk mencium kaki ibunya, sebuah keinginan yang tak bertepi. Kesempatan tidak datang dua kali robbb… —————— Oktober 2017, Di tepian Teluk Youtefa, Julio Sandia. Ini adalah certita rekaan semata, jika ada kesamaan nama dan tempat, penulis mohon maaf sebesar besarnya. Foto pada gambar adalah ilustrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s