BAHAGIA DALAM PERIH

#CerpenPapua
Karya pribadi, semoga D’BLACK berkenan, di sela sela fokus kita pada tim kebangaan PERSIPURA JAYAPURA.

BAHAGIA DALAM PERIH
——
Aku tidaklah terlahir dari keluarga berada yang berkecukupan, sebagai seorang laki laki yang terlahir di sebuah pulau kecil di samudera pasifik, dibesarkan dalam keluarga nelayan yang terbiasa hidup seadanya, tanpa telalu banyak hayalan ke depan. Sejak kecil kami ditanamkan doktrin untuk makan untuk hari ini saja, besok adalah besok, janganlah serakah, biarkan alam berjalan dengan keseimbangannya.
Sebuah pola pikir yang sangat standar kalau tidak mau dikatakan sangat kuno
tapi bisa juga dikatakan sangat maju, tergantung dari sudut mana kita menilai

Ruben… ko tolong kase bersih pukat ( jaring ikan), nanti malam bapa mau pasang akan
Ruben… kam jang main main ikan tu, kase tinggal dong besar dulu baru ambil dorang makan, itu masih kecil.
itulah kalimat yang seringkali keluar dari mulut ayah, paman, om, bapade dan bapatua dorang ketika kami pulang dari memancing di tepian pantai yang indah
Bagi mereka, ikan yang sebesar telapak tangan orang dewasa masih termasuk kecil sehingga tidak boleh ditangkap. Biarkan saja sampai besar.
Namun dari keseharian yang sering kulihat ketika para orang dewasa pulang dari Laut adalah sekumpulan ikan seukuran tubuh anak usia 5 tahunan
wahh jadi inilah ukuran ikan yang dikatakan sudah besar ? wawwwww. ๐Ÿ™‚

Setamat sd di kampung, orang tuaku memutuskan untuk mengirimkan ku tinggal di kota demi mengenyam pendidikan lanjutan karena di kampungku belum ada SMP apalagi SMA. Pola berpikir yang dikemudian hari sangat kukagumi dan kubanggakan dari orang tua yang hanya lahir dan dibesarkan di kampung kecil.

Kebetulan di Kota Jayapura ada salah seorang adik ayah yang sudah bekerja walaupun bukan sebagai pegawai tingkat atas, namun kehidupannya boleh dikatakan cukup baik. Namanya Bapade Marlon, adik kandung ayah. Dari cerita yang kudengar dari ayah, Bapade Marlon punya sebuah rumah kontrakkan, sehingga aku bisa menumpang tinggal bersamanya.
Bapade Marlon pun dalam beberapa kesempatan ketika pulang ke kampung, sudah mengajak ku untuk setelah Tamat SD, pergi tinggal bersamanya di Kota Jayapura. Sungguh aku bangga padanya. Melanjutkan sekolah di sebuah SMP negeri di Jayapura, kujalani dengan penuh semangat. Bapade Marlon sangat menyayangiku, diberikan sebuah kamar kecil sabagai kamarku.
Sebagai anak kampung yang terbiasa bekerja keras, aku sudah banyak diberi bekal oleh orang tuaku, untuk tidak selalu menjadi beban untuk orang lain, slalu berterima kasih dan harus berusaha mandiri. Hal itu benar benar sudah tertanam di dalam jiwaku, sehingga walau aku tinggal bersama bapade Marlon yang adalah adik kandung ayahku sendiri, aku tidak mau menjadi beban, setiap pagi aku mebersihkan halaman, mengisi semua bak air dan drum drum di dapur dengan air sampe penuh. mencuci sepeda motor bapade marlon, dan memotong rumput di halaman agar selalu terlihat indah dan rapi.

Setelah semua pekerjaan itu rampung, akupun berangkat ke sekolah yang cukup jauh letaknya, kadang jika kiriman dari orang tua dikampung masih cukup, kupakai untuk naik taksi. (Taksi di Jayapura bukanlah taksi di Pulau jawa, yang seperti sedan,tapi taxi di Jayapura itu model starwagon, atau L 300). Kadang untuk menghebat biaya, tak segan segan aku berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan berharap ada Truk ataupun kendaraan bak terbuka yang berbaik hati mau ditumpangi

ooommm… bisa numpang ke abe ka ? ahh… tong tra ke abe !!
begitulah dialog harian yang sering terjadi dengan para pemilik kendaraan yang ingin ditumpangi.
kadang kita mendapatkan orang yang berbaik hati, namun tak jarang banyak yang semakin menginjak pedal gas kendarannya ketika melewati kami. Dan kamipun maklum, itu berarti mereka tidak mau ditumpangi. Seringnya mengalami hal hal itu membuat kami tidak marah, kami mencoba peruntungan berikutnya, sampai akhirnya ada yang mau kami tumpangi. resikonya kadang sampai di sekolah terlambat, ataupun terlalu pagi. Beberapa kawan yang senasib pun sering melakukan hal seperti ini, yang dalam istilah kami Leften Blakos rn entah istilah itu dari mana, tapi merupakan istilah yang sudah sangat populer di kalangan kami.

SMP kulalui dengan baik, dalam kesederhanaan, aku bisa menamatkan SMP dengan hasil yang cukup. Bantuan dan Kebaikan Hati Bapade Marlon cukup membantuku, dengan kebaikannya pula, aku dibantu masuk ke sebuah SMA negeri yang merupakan salah satu SMA populer di Kota Jayapura.

Seiring waktu yang terus berjalan, Bapade Marlon pun menikah dengan teman kerjanya, Mamade Della, begitulah namanya, sangat cantik jelita. Orang
Papua yang cantik jelita, berambut ikal kemerah merahan, berkulit bersih dan manis. Aku sangat kagum dengan Penampilannya ketika pertama kali dia datang ke rumah kontarakan diajak Bapade Marlon.
Dia pun begitu ramah menyapa ku, hatiku berbunga bunga saat itu tentunya kalau Bapade Marlon menikahi KK ini, pasti Bapade Marlon Bahagia sekali. Dan aku berjanji akan selalu mendampingi mereka. Aku akan selalu mengerahkan semua tenaga ku untuk melayani mereka, menjadi pembantu bagi mereka, mengabdi bagi mereka berdua. aku sangat iklas. ini adalah tekadku. Untuk membalas kebaikan bapade marlon yang sudah ikut membantu membayar uang sekolah jika ayahku di kampung belum ada uang.

Walaupun bapade Marlon Pegawai Biasa, namun kerajinan, keuletan dan ketekunan bekerjanya membuat dia sering ditugasi oleh kantor tempat bekerja untuk berkunjung ke daerah daerah lain dan itu berarti ada sisa uang jalan yang cukup untuk keperluan bapade sendiri dan tentunya akupun sebagai keponakan kandungnya tak akan dilupakan.

Pesta pernikahan Bapade Marlon dan mamade Della berjalan sederhana
namun meriah, dihadiri kawan kawan kerja bapade, para tetangga, ayah dan ibuku menyempatkan diri datang untuk ikut mendampingi. sepeninggal kakek dan nenek, ayahku sebagai anak tertualah yang selalu menjadi wakil bagi keluarga walau secara ekonomi, ayahku bisa dikatakan paling pas pasan, tapi adat dan tradisi kami membuat ayahku masih punya posisi yang baik dalam keluarga. Sesuatu yang kadang kutertawakan, karena bagiku ayahku dan keluargaku tak punya cukup harta, kadang masalah ekonomi membuat kehadiran ayahku hanyalah formalitas belaka Karena tentu tidak akan berbuat banyak jika berbicara soal dana.

Kini rumah kontarakn Bapade marlon sudah terisi 3 orang, bapade, mamade dan aku. Tahun pertama kehidupan kami berjalan baik dan penuh sukacita. Mamade yang cantik jelita, dan merupakan orang berpendidikan tinggi sangat dispilin, ingin seisi rumah itu bersih dan rapih. Walau aku ini anak kampung, dari desa nelayan, tapi soal kebersihan dan kerapihan jangan ditanya, orang tua ku sudah cukup melatih aku sejak kecil. Sehingga aku tak kesulitan menyesuaikan diri dengan gaya Mamade Della.

Namun.. seiring berjalannya waktu pula… sikap Mamade Della yang dulu begitu
manis, mulai berubah sedikit demi sedikit, aku sering ditegur, sering dimarahi, hanya karena ada bak air yang belum terisi penuh. Padahal hal itu tak pernah dipersoalkan Bapade Marlon. Dan aku
tak pernah malas dan sengaja, namun itu terjadi karena kegiatan di SMA ku yang makin padat sehingga aku sering kesulitan membagi waktu dan tenaga.

ruben.. kenapa pot bunga pica tu,
ko tra bisa perhatikan ka ?
bentak mamade ketika didapatinya Pot BUnganya Pecah, entah karena anjing
yang tabrak atau apa, aku pun tak mengerti, tapi akulah tempat pelampiasan. Hal ini dikarenakan akulah yang sering mengurusi halaman dan taman bunga. sehingga jika ada hal hal buruk yang terjadi, akulah yang akan dianggap paling bertanggung jawab. Bapade Marlon juga yang dulu begitu memperhatikan ku, kini lebih banyak perhatian pada istrinya, hal yang sangat wajar bagiku.

Namun suatu ketika Bapade Marlon mulai ikut memarahiku, kadang ikut memaki ku karena kesalahan kesalahan yang tak ku sengaja.
Lama lama setiap aku dibentak Mamade Della, Bapade Marlon pasti akan ikut memarahi ku. Perubahan demi perubahan terjadi. Aku terima semua itu, karna pikirku, merekalah tempat aku menumpang hidup dan sekolah, tanpa mereka aku harus kemana ? semua ini membuat aku tabah dan kuat. Dengan Penuh kerendahan hati aku selalu meminta maaf dan berjanji memperbaiki semua kesalahan yang jujur saja, kadang ditolak oleh hati kecilku karena aku merasa bukanlah penyebabnya.

Karir Bapade marlon makin baik, sehingga Rumah Kontarakan semakin dipenuhi banyak barang barang bagus sampai suatu ketika aku diminta sama Bapade Marlon untuk pindah ke sebuah kamar kosong di bagian belakang, yang dulunya dipakai sebagai Gudang. hal ini dikarenakan kamar dalam rumah yang kutempati harus dipakai oleh mamade untuk menaruh lemari pakaian Bapade dan mamade. Kuturuti semua itu dengan baik tanpa sedikitpun protes.
Sebagai anak kampung, walaupun tinggal d sebuah kamar kecil yang dulunya gudangpun, bagiku sudah jauh melebihi lumayan.

Keluarga Mamade della dari kota lain sering datang berlibur, walau
mereka sebaya denganku namun sebagai keponakan Bapade dari kampung, aku selalu menempatkan diriku lebih rendah melayani mereka dengan baik, mulai dari mengurusi keperluan mereka, sampai menyiapkan tenaga kapan saja bila diperlukan mereka. Sejak aku tinggal di belakang rumah, kamar kecil bekas gudang itu kusulap menjadi kamar bujang yang keren dan indah. Sedikit jiwa seni yang kuwarisi dari kakekku yang tentunya adalah ayah dari bapade Marlon juga, membuat dimana aku tinggal, pasti indah, bersih rapi dan menarik dipandang. Sebuah kelebihan yang sangat ku syukuri.

Bapade Marlon mulai jarang melihatku, mungkin karena dia lelah bekerja sehingga setiap pulang kantor, harus istirahat, malamnya keluar lagi karena ada acara kantor, kadang juga keluar bersama Mamade Della.
karena letak kamarku di belakang dan terpisah dari Rumah induk, membuat makin lama aku makin merasa sendiri. Mamade sering memarahiku, membentak dan mencaci maki. Semua itu kuterima dengan baik, mungkin mamade cape bekerja sehingga sedikit tegang , pikirku. Bantuan keuangan dan hal lain dari Bapade Marlon mulai berkurang justru di saat aku SMA, keperluan sekolah makin banyak.

Aku tidak protes, aku jalani semua, kadang aku ikut beberapa kawan, bekerja di proyek proyek galian saluran kabel, membersihkan halaman kantor kantor Pemerintah. Sebagai pemuda kampung, aku tidak punya ego yang tinggi, sehingga semua itu kujalanai dengan tabah.
Kupenuhi keperluan ku sendiri, sementara ayah dikampung yaang sudah mulai lanjut usia, sudah tidak bisa berbuat banyak.
Ibuku apalagi, seorang wanita kampung biasa. tak mungkin bisa membiayaiku lagi. Kadang aku termenung, kenapa ya aku alami semua ini ? kenapa aku begitu susah ? kenapa aku sangat kekurangan ?

Di SMA ku mungkin akulah siswa paling tidak punya apa apa, semua semua main pinjam dan berharap kebaikan hati kawan kawanku. Perubahan perubahan yang terjadi kian lama kian membuat aku merana.
Sebagai siswa SMA kelas 3 aku bukanlah anak kecil lagi, aku harus mampu menjalani hidup ini dengan mandiri. Sikap Bapade Marlon semakin berubah, Mamade Della sering memberi masukan masukan yang memojokkan aku,
hal ini membuat Bapade Marlon sering sekali membentak, malah memaki ku. Akupun mulai tahu diri, janganlah aku menjadi beban dan sumber masalah bagi mereka, mungkin mereka perlu ketenagan dan kesendirian untuk menata kehidupan rumah tangga baru mereka.

Melalui perenungan yang dalam dan tekad yang bulat, kuputuskan untuk pamit dari Rumah Bapade Marlon. Mamade Della kelihatannya sangat senang mendengar keputusanku, walau dia mencoba bersikap biasa saja dan berpura pura menahanku,
Sedangkan Bapade Marlon ? dia malah diam seribu bahasa. Aku pergi dengan barang seadanya yang kumiliki, tinggal tidak jauh dari SMA ku, membangun Gubuk kecil di lereng gunung. Kebetulan di lereng
gunung itu ada juga beberapa gubuk yang dibangun oleh KK KK yang sedang Kuliah.
Aku sangat kagum dengan mereka, kutiru segala pola hidup mereka, mulai dari membuat kebun kasbi(singkong) dan kebun tanaman sayur mayur untuk mencukupi kebutuhan makan sehari hari. Beras bisa kubeli sekali kali jika ada kiriman uang dari kampung atau hasil dari mana saja.

Aku berusaha menyimpan semua sikap Bapade marlon dan mamade Della padaku, namun dari beberapa tetangga yang kebetulan kenal sama ibu dan ayahku, Orang tuaku di Kampung mengetahui itu semua. Ayahku menyikapinya biasa saja, dia selalu menguatkan aku, mengatakan bahwa anak laki laki tra boleh lemah. Hidup itu penuh perjuangan.
Namun Ibuku tidak demikian, dia begitu terluka. Betapa tidak, AYahku sebagai KK tertua dalam keluarga yang lebih dulu menikah biarpun hanya sebagai Nelayan, pernah menjadi tulang punggung keluarga, pernah ikut merawat dan membesarkan Bapade Marlon. Ibuku tahu betul itu rn hati seorang ibu mana yang tak sakit hati dan kecewa. Usia pun ikut andil membuat ibuku sering sakit sakitan. Kadang aku mengirim surat, membesarkan hati ibu sesekali suratku dibalas, walau kadang bisa berbulan bulan baru kuterima karena transportasi yang begitu susah.

Akhirnya Aku tamat SMA ..,
walau dengan susah payah dan dengan bantuan sekedarnya dari KK KK sesama Komplek Gubuk ๐Ÿ™‚
ada beberapa pondok yang berjejer di situ, kami namakan komplek wisma Kandera. walaupun cuma
gubuk gubuk kecil, kami biasa menyebutnya Wisma, sekedar untuk menghibur hati kami. dan Kandera adalah nama yang kami pilihkan untuk menggambarkan bahwa hidup kami penuh derita dan kekurangan namun kami tetap tegar demi merengkuh pendidikan yang baik. Kami selalu percaya, pendidikan yang baik adalah salah satu faktor yang dapat ikut membantu kami keluar dari kemiskinan dan kesederhanaan.

Aku kini adalah seorag Mahasiwa universitas negeri paling tertua di Kota ini yang kebetulan tidak terlalu jauh dari SMAku dan Wisma Kandera kami. Waw… kadang aku tak percaya bisa menjadi Mahasiswa, terselip rasa bangga tak terkira, namun cemas pun kadang melintas, kadang banyak tanya hadir di benak ku, mampukan aku menyelesaikan ? bagaimana membayar uang Semester ?
Tapi semua tetap ku jalani, sesuai pesan ayahku, bahwa anak laki lkai tidak boleh lemah, hidup itu perjuangan.

Kasih Tuhan yang melimpah dalam hidupku, talenta yang diberikan padaku, membuat aku menjadi Mahasiswa yang pandai, kadang aku memberi kursus kepada adik adik SMP dan SMA, dengan mendapat bayaran yang ala kadarnya. Sedikit darah Seni yang mengalir dari kakek ku juga membuat aku mahir memainkan alat musik, dan menggubah banyak lagu. Kadang ada rasa bangga ketika di Toko dan dipasar atau di rumah rumah penduduk yang kulewati, lagu ciptaan ku terdengar indah mengalun, aku tersenyum dalam bangga tak terkira, tak pernah terpikirkan bagiku tentang Hak cipta atau apalah namanya Laguku bisa dinyanyikan orang lain saja, aku sudah ikut bangga. Walau kadang aku menggerutu dalam hati, betapa para pencuri laguku sangat tidak menghargai hasil karyaku. Entah bagaimana lagu laguku bisa populer di mata masyarakat, kadang tertulis di kaset kaset, pencipta NN (No Name). sebuah istilah bagi lagu lagu yang tak dikenal penciptanya.
Tak banyak orang yang tau, lagu lagu itu kugubah dari dalam pondok sederhana ku ini, di lereng gunung nan hijau dan damai dalam kesederhanaan. Hanya beberapa KK dan teman yang tau, karena pernah melihat aku menulis dan menyanyikannya.

Sementara yang kudengar Bapade Marlon semakin sukses, dan sudah
membeli mobil, walau dia tak pernah lagi menjengukku, aku bahagia mendengarnya, biar bagemanapun, dia adalah Bapade kandungku. Mungkin sikapnya begitu karena Mamade tidak tulus menerima kehadiranku.

Di masa perkuliahan itulah pula aku berkenalan dengan seorang teman sekampus, gadis manis dan cantik di mataku Entah kenapa dia bisa suka dan jatuh cinta padaku, aku merasa tak perlu mencari tahu jawaban itu, yang terpenting adalah aku begitu menyayanginya dan dia juga menyayangi ku, tanpa rasa malu dan gengsi, ia sering datang ke wisma kandera, membawa sedikit keperluan ku, sungguh aku bahagia tak terkira. Tuhan itu Adil, dalam kekurangan ku, Dia memberikan aku seorang Gadis Manis yang punya banyak kelebihan.
Dari keluarga yang boleh dibilang cukupan. Merry.. itulah namanya, gadis manis berdarah campuran beberapa suku di papua. Kami menjalani hubungan cinta ini dengan baik, penuh kehangatan dan ketulusan.

Sore ini di depan pondok wisma kandera, kami duduk berdua saling memanja, kumainkan gitarku.
Merry menyanyikan lagu lagu ciptaanku. Oh alangkah indahnya hidup ini. sejenak kulupakan beban dan kesulitan hidupku. Alunan suaranya yang menyanyikan lagu laguku dengan penuh rasa, mungkin karena cintanya , sehingga kalimat demi kalimat terdengar begitu menggetarkan hatiku. Dalam Hatiku aku berdoa, semoga aku bisa lulus Kuliah, mencari pekerjaan, dan diberikan modal yang cukup untuk melamar Merry, kekasih hatiku.

Merr..
Aku tak akan membawa mu tinggal dalam Wisma Kandera ini,
tak akan kubaringkan tubuhmu yang indah di atas tempat tidur kayuku yang usang, kau tak pantas menerim ini semua. Ketulusan dan cintamu pantas kubayar lebih. Aku akan mencari tempat tinggal yang layak buat engkau dan anak anak kita yang akan lahir suatu saat nanti. Mereka tidak akan mengalami hidup seperti diriku ini.
Aku akan merencakanakan semua dengan baik.
Semoga Tuhan diatas sana merestui hubungan cinta ini
dan memberikan cinta yang terus menyala di hati mu Merry,
sehingga engkau tidak berpaling dariku,
biarkan lah aku bahagia, jangan…….
pisahkan kami…
ku tak akan mampu bila itu sampai terjadi

begitulah seribu sumpah,janji, tekad dan harapan dalam hatiku.
Akankah kurengkuh semua asaku ? Tuhan .. hanyalah Dikau yang tau.
————————————————

Wisma Kandera, 11 Oktober 2007, Julio Sandia
ini adalah cerita rekaan semata, jika ada kesamaan nama tokoh,waktu dan tempat,mohon maaf sebesar besarnya.
Foto pada cerpen adalah gambar ilustrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s